Bukan Orang Ketiga | Bab 11

1232 Words
“Aku benci semua orang!” teriak Ajeng sambil melempar kaca makeup ke lantai. Bunyi pecahannya menggema di kamar yang terlalu mewah untuk situasi sekacau itu. Juan berdiri di ambang pintu. Ia hanya menatap dalam diam. “Kamu denger gak?!” bentak Ajeng sambil menoleh. Rambutnya berantakan, eyeliner-nya luntur. Satu high heels di kakinya, satunya lagi entah ke mana. “Iya. Saya denger kok Bu” jawab Juan pelan. Ajeng menatapnya sejenak, lalu kembali menjambak rambutnya sendiri. “KAMU YANG KASIH TAU AKU! KAMU YANG KIRIM FOTO MEREKA! INI SALAH KAMU JUGA, JUAN!” Juan menelan ludah. “Ibu minta saya cari tahu, dan saya lapor kayak biasa.” Ajeng menghentakkan kakinya seperti anak kecil. “Aku gak minta kamu kasih lihat mereka nikah! Aku gak minta kamu kirimin foto Tari megang tangan Gema kayak dia istrinya beneran!” Juan menarik napas. “Dia memang istrinya sekarang.” Ajeng langsung melempar botol parfum ke arah Juan. Pria itu sedikit mundur, tapi tidak menghindar terlalu jauh. Botol itu menghantam tembok dan jatuh memantul ke karpet. “Keluar dari sini!” bentak Ajeng. Juan tetap diam. “Saya gak akan keluar sampai Ibu tenang.” Ajeng memutar bola matanya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan gerakan dramatis. “Aku pengen Gema balik. Sekarang juga.” “Ibu gak bisa nyuruh orang kayak narik sopir pribadi,” kata Juan pelan. Ajeng menatapnya tajam. “Aku bisa! Aku selalu bisa!” Juan duduk di kursi seberang. Pelan. Hati-hati. “Enggak, Ibu gak bisa sekarang.” Ajeng membuang muka. “Dia beneran berani lakuin itu. Aku kasih dia kesempatan. Dia bilang dia butuh waktu. Ternyata dia malah kawin sama mantannya yang norak dan miskin itu.” Juan tak menjawab. Ia tahu, semakin ia jawab, semakin panjang ledakannya. “Dia lupa aku yang beliin dia jam tangan yang dia pakai di pernikahannya? Aku yang pikihan dasi itu sesuai seleranya. Aku yang berjuang dari awal!” “kan Ibu yang pilih untuk kasih semua itu.” Ajeng mendelik. “Kamu bela dia?” “Saya gak bela siapa-siapa.” Ajeng mengangkat kakinya ke sofa dan memeluk lututnya sendiri. Sikapnya seperti gadis lima belas tahun yang ngambek karena gagal pesta ulang tahun. “Aku sebel banget. Aku sebel liat Tari tuh selalu kelihatan menderita tapi ending-nya dia yang dapet segalanya.” Juan diam. “Kamu liat kan? Dia diem-diem nikah. Sama suami orang. Terus sekarang mereka tinggal entah di mana, kayak pasangan drama murahan. Kenapa gak ada yang ngelarang? Kenapa semua orang diem aja?” Juan menjawab pelan, “Karena mereka gak bisa ngatur hati orang lain, Bu.” Ajeng mendengus. “Hati? Hati? Ini bukan soal cinta, Juan. Ini soal harga diri.” “Ya makanya jangan habisin harga diri Ibu buat rebut orang yang gak mau direbut.” Ajeng berdiri lagi. “Dia bukan gak mau! Dia cuma lagi terpengaruh! Dia bakal balik kalau aku mau!” Juan mendesah panjang. “Bapak udah sah nikah. Mereka ke gereja. Ada Pastor. Ada saksi.” “Saksi?!” Ajeng memutar badan. “Siapa saksinya hah?!” Juan menatapnya lama sebelum bicara, “Tantenya sendiri. Bu Hera.” Ajeng membatu. “Tantenya dukung?” Juan mengangguk pelan. "Bu Hera gak cuman jadi backingannya di Rumah Sakit. Tapi dia juga pastiin gak ada yang bisa ganggu upacara pernikahan itu." Ajeng tertawa. Kali ini bukan getir, tapi gila. “Hebat. Hebat. Semua orang di dunia ini ternyata bisa berkomplot asalkan lawannya aku ya?” Juan tidak menjawab. Ajeng mulai berjalan mondar-mandir lagi. “Aku gak bisa tidur. Aku gak bisa makan. Aku mau Gema balik malam ini. Aku mau dia berdiri di sini, jelasin semuanya, dan minta maaf. Terus kita balik kayak biasa.” “Gak ada ‘biasa’ lagi, Bu,” ucap Juan pelan. Ajeng menatapnya seperti anak kecil yang baru diberi tahu mainannya hilang dan gak bisa diganti. “Aku harus menang. Aku selalu menang. Kamu tahu itu. Kamu tumbuh di rumah ini, kamu tahu dari kecil aku gak pernah kalah.” Juan berdiri. Kali ini nadanya mulai berubah. “Iya. Tapi hidup Ibu sekarang bukan lomba lari anak TK. Ini bukan soal menang. Gapapa buat ngaku kalah terus coba cari jalan lain.” Ajeng membeku. “Kamu bilang aku kalah?” "Iya. Karena, Ibu gak harus menang di sini.” Ajeng menggeleng cepat. “Enggak. Kamu bohong. Kamu bohong! Aku bisa ambil Gema dari Tari kapan aja aku mau!” Juan menatap mata Ajeng lama. “Kalau Ibu yakin, kenapa Ibu ngamuk kayak orang gila sekarang?” Ajeng diam. “Kenapa masih nangis diam-diam kalau malam?” lanjut Juan. “SIAPA BILANG AKU NANGIS?!” Juan tetap tenang. “Ibu pikir saya gak denger? Rumah ini sunyi, Bu. Ibu selalu teriak nama dia setiap ketiduran tungguin dia pulang di sofa." Ajeng terduduk pelan. Kali ini tidak drama. Lebih ke lelah. “Aku gak mau kehilangan apa-apa lagi,” gumamnya. Juan mendekat. Tidak menyentuh, tapi berdiri cukup dekat. “Kalau Ibu terus kejar yang pergi, Ibu bakal kehilangan diri sendiri.” Ajeng mengangkat kepalanya. Wajahnya masih egois. Masih keras. Tapi mulai ada retak di sana. "Pak Kenan juga pasti gak suka kalau liat Ibu kayak gini. Dia selalu usahain Ibu aman, jadi beliau pasti bakal marah liat Ibu nyakitin diri sendiri." Juan menatap sedih wanita di depannya ini. Sepanjang ingatannya, Ajeng hanyalah anak manja yang selalu rewel di dekat Pak Kenan, Papah Ajeng. “Kamu di pihak siapa sih, Juan?” “saya di pihak Ibu pastinya. Tapi bukan versi Ibu yang kayak gini. Bukan yang rusak dan lupa siapa dia sebenarnya.” Ajeng menggigit bibirnya. Juan mundur sedikit. “Saya keluar dulu, Bu. Makan malamnya belum disentuh sama sekali. Saya suruh Mbak Tina ganti menu, ya?” Ajeng mengangguk pelan. “Ganti sup-nya. Aku gak suka baunya.” Juan hampir tersenyum. “Siap, Bu Ajeng.” Saat ia melangkah keluar, Ajeng berkata pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau aku minta kamu cari mereka... kamu masih mau, kan?” Juan menoleh. Ia mengangguk kecil. “Saya selalu nurut sama Ibu. Seperti mendiang Pak Kenan selalu bilang. Pintu ditutup. Ajeng sendirian. Tapi untuk pertama kalinya, bukan karena ditinggal. Tapi karena dia memang minta sendiri. Sementara di dapur, Juan duduk kebingungan sambil menarik nafasnya panjang. Dia sudah menyampaikan perintah agar menu makanan untuk Ajeng diganti. Ia akhirnya memilih duduk di meja makan sambil merenung. Hingga tanpa sadar matanya menangkap sesuatu yang tidak asing di keranjang sampah. Ia bergerak dengan buru-buru mengambil benda itu. "Mbak?" Ujarnya sambil menatap ke sosok wanita paruh baya yang sedang sibuk di dekat kompor. " Ibu masih sering minum pil antidepresian?" Juan bertanya sambil memperlihatkan botol pil di tangannya. "Saya kurang perhatiin sih pak, tapi tadi pagi ada kurir gitu anterin obat katanya. Saya pikir suruhan bapak." Juan menganga sebentar. "Jadi selama ini, Ajeng masih minum pil antidepresian tanpa saya tau" gumamnya. Ponselnya kemudian berdering. Suara telfon masuk bergema. Dia dengan cepat mengangkatnya. "Halo pak, saya udah tau dimana Pka Gema dan perempuan itu tinggal. Mereka sekarang ada di villa A daerah A pak." Juan menuduk bingung. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. "Kamu stay di area situ aja, tetep awasin mereka aja." "Siap pak, kordinatnya saya kirim yah pak," "Gak usah. Sama inget, jangan sampai Bu Ajeng tau kamu udah ketemu di mana mereka. Pura-pura aja gak tau." Ujarnya sebelum akhirnya mematikan telfon secara sepihak. Juan paham, satu-satunya hal yang membuat Ajeng tetap waras adalah ketidaktahuan wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD