Bukan Orang Ketiga | Bab 10

1145 Words
Tari duduk di sisi ranjang, menatap lantai kayu. Rambutnya sudah ia lepas dari sanggul, jatuh sampai bahu. Ia mengenakan kaos polos putih yang entah punya siapa, dan celana training abu-abu. Gaun pengantin tidak pernah terasa seasing itu di tubuhnya. Tapi bajunya sekarang pun tak membuatnya nyaman. Gema keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, handuk menggantung di bahu. Ia tampak kikuk saat menyadari Tari masih terjaga. “Kamu belum tidur?” tanyanya. Tari hanya mengangkat bahu. Gema menarik napas pendek. Ia berjalan ke meja kecil di pojok ruangan, mengambil botol air lalu kembali duduk. Jarak mereka di ranjang sekitar satu meter. “Kopi tadi... pahit ya?” tanya Gema, mencoba memecah sunyi. Tari mengangkat kepala, memandangnya dengan ekspresi datar. “Aku gak minum.” “Oh.” Gema menunduk. “Kupikir kamu suka yang pahit.” “Dulu.” “Oh.” Beberapa detik berlalu sebelum Gema bicara lagi. “Tadi waktu di gereja... kamu sempat gemetar.” Tari menoleh sejenak. “Kedinginan.” “Oh. Aku kira karena gugup.” Tari menghela napas pendek. “Gema, kamu gak harus ngomong terus buat isi ruang ini. Kita bisa diem aja kalau kamu mau.” Gema tertawa hambar. “Aku cuma gak mau malam pertama kita jadi... canggung banget.” Ia mengangguk pelan. Lalu diam. Ia pikir pertanyaan ringan bisa membuat segalanya lebih baik. Tapi yang ringan justru membuatnya terasa kosong. “Aku kira kamu bakal pakai baju tidur yang lebih... formal,” ujar Gema, menyesap air. Setengah bercanda. Tari menoleh cepat. “Maksud kamu apa?” Gema buru-buru mengangkat tangan. “Enggak... enggak maksud apa-apa. Cuma... ya, ini malam pertama kita.” Tari menyandarkan punggung ke dinding. “Kamu berharap apa sih, Ge?” Gema tidak langsung menjawab. “Kita nikah dengan cara yang gak wajar. Aku gak minta ini. Kamu juga tahu aku gak siap. Tapi sekarang kamu di situ, duduk dan tanya soal kopi dan baju tidur kayak kita pasangan normal,” ujar Tari dengan nada tajam tapi pelan. Gema mendesah. “Aku cuma... ya, aku cuma pengen mulai dari sesuatu yang ringan.” Tari tertawa kecil. Dingin. “Ringan?” “Tar... aku ngerti kamu masih marah.” “Masih?” Tari menoleh. “Kamu pikir ini marah yang bisa expired dalam dua minggu?” Gema diam. Matanya menatap lantai. Malam itu terlalu sempit untuk dua kepala penuh luka. “Ajeng ngirimin pesan,” kata Tari tiba-tiba. Gema mendongak. “Kapan?” “Tadi sore. Waktu kamu keluar beli gas. Isinya... gak penting.” “Apa dia tahu tempat ini?” “Gak tahu,” jawab Tari cepat. Lalu menatap Gema. “Tapi kalau dia tahu, kamu pikir dia bakal diam?” Gema menunduk. “Dia gak berhak...” “Dia istri kamu, Gema. Masih sah. Kamu pikir dia bakal nyerah cuma karena kamu tiba-tiba nikahin mantan kamu?” “Dia juga yang mulai hancurin hubungan kita dulu.” Tari tertawa pelan. “Dan sekarang kamu nyalahin dia, bukan keputusan kamu sendiri?” Gema menatap Tari. “Kamu pikir aku nikahin kamu buat balas dendam?” “Aku gak tahu, Ge. Aku gak tahu apa-apa sekarang soal kamu. Yang aku tahu, sekarang aku harus bangun tiap pagi di rumah asing, sama laki-laki yang dulu aku percaya, sekarang aku pertanyakan.” Gema berdiri pelan. Matanya mulai gelap. Tapi bukan karena sedih. Melainkan karena lelah. “Kamu ngomong kayak semuanya salah aku,” katanya, suaranya nyaris tidak naik. “Padahal kamu juga yang pergi. Kamu juga yang bilang ‘selesai’ duluan.” “Aku pergi karena waktu itu gak ada tempat buat aku, Gema. Ibu kamu benci aku. Papah kamu ngusir aku dari rumah sakit waktu itu.” “Karena kamu diam aja. Kamu gak lawan. Kamu nyerah,” ujar Gema. “Aku berusaha! Tapi kamu diem aja waktu keluargamu mutusin semua hal buat kamu. Bahkan waktu mereka atur pernikahanmu sama Ajeng... kamu diem!” Gema menggeleng, kesal. “Kamu pikir semua itu aku mau?” “Kamu gak pernah bilang enggak!” Gema tertawa pahit. Ia berjalan ke sisi ranjang, mengambil jaketnya yang tergantung di kursi. “Mau ke mana?” tanya Tari. “Keluar.” “Kita belum selesai bicara.” Gema mengenakan jaket. “Aku gak bisa kalau setiap kalimat aku dibalas tuduhan.” “Aku gak nuduh. Aku cuma...” “Cuma gak bisa terima aku berubah?” potong Gema. “Atau kamu gak bisa terima kenyataan kalau kita udah beda?” Tari menatapnya, rahangnya mengeras. “Kalau kamu udah berubah, kenapa nikahin aku?” Gema mematung. “Biar kamu bisa buktiin ke Ajeng kalau kamu masih bisa punya kendali atas aku?” lanjut Tari. “Atau biar kamu ngerasa punya sesuatu yang Ajeng gak bisa rusak?” Gema menatap Tari dengan sorot tajam. “Kamu gak tahu apa-apa soal perasaan aku.” “Karena kamu gak pernah cerita. Kamu cuma minta aku ikut semua rencana kamu. Tanpa tanya aku sanggup atau enggak.” Gema akhirnya membuka pintu kamar. Udara dingin malam menerobos masuk. “Gema.” Laki-laki itu berhenti. Ia menoleh setengah. “Aku gak butuh kamu jadi pelindung. Aku butuh kamu berhenti main-mainin hidup orang lain.” Gema tidak membalas. Ia menatap Tari lama, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Lalu ia keluar. Pintu kamar tertutup. Tari menghela napas berat. Ia menarik selimut, mematikan lampu, lalu berbaring memandangi jendela. Membayangkan hari-hari nya yang harus bersembunyi selama mungkin. Malam itu sunyi lagi. Bukan karena tak ada yang bicara. Tapi karena masing-masing dari mereka memilih diam daripada kembali menyakiti. Andai Laki-laki itu tau, bahwa hari di mana keduanya putus, ia kedatangan tamu spesial di rumah sederhananya. Papah Gema. Pria tinggi yang raut wajahnya dipenuhi kerutan tajam. Tari bahkan hanya mampu menunduk sepanjang pembicaraan mereka. Menatap sepatu pantofel hitam yang mengkilat menjadi hobinya kini. Laki-laki itu mungkin mewariskan satu hal pada Gema. Sikap dinginnya, sikap acuh tak acuhnya pada urusan yang bukan miliknya, dan tak segan melakukan apapun kepada yang menghalanginya. Tari tidak pernah setakut itu dalam hidupnya. Bahkan sat ayahnya pulang sambil mabuk. "Saya tau kamu juga gak bisa hentiin anak saya yang udah terlanjur jatuh cinta sama kamu." Ujarnya dingin. Perempuan itu diam saja, kebingungan. "Kamu gak bisa lakuin apa-apa kalau alasan kamu ninggalin dia itu karena keadaan." Ucapan pria itu membuat Tari perlahan mendongak. "Kamu bisa tinggalin dia dengan alasan perasaan kamu. Bilang sama anak saya itu kalau kamu udah capek, kamu takut, dan perasaan kamu berubah. Terus kamu tinggal pergi. Saya bisa bantu tutup akses dia buat kamu." Tari menelan ludahnya gugup. "Sebagai imbalannya, kamu bisa tulis nominal berapapun di cek ini." Perempuan iu kalut. Ia tidak berbicara sepatah katapun sampai pria itu pergi dari rumahnya. Meninggalkan selembar cek yang bisa ia tulis berapapun jumlahnya. Tapi, ia menghembuskan nafasnya panjang, mengambil cek itu, merobeknya, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Tari tetap melakukan hal yang diminta padanya. Tetapi tidak sekalipun ia memanfaatkan sepeser uang yang disodorkan padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD