Tari melangkah masuk perlahan. Setiap langkahnya terasa seperti menabrak tembok yang tak terlihat. Ia tahu ia tidak sedang masuk ke dalam kehidupan baru, tapi ke dalam jebakan yang sengaja dibangun oleh masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.
Hera berdiri di sisi bangku paling depan, hanya menoleh singkat sambil mengangguk pelan ke arah Tari. Wajah wanita paruh baya itu tidak memperlihatkan ekspresi bahagia, hanya datar, seakan semua ini hanyalah prosedur yang perlu diselesaikan. Saksi. Itu saja perannya hari ini.
Hera sempat bebucara sebentar dengan Tari saat wanita itu sedang bersiap. Ia jujur mengatakan dukungannya atas Gema agar dapat menikahinya. Tari juga akhirnya tau, bahwa karena Hera lah, Ajeng tidak mampu berbuat apa-apa.
Pastor tua dengan jubah putih berdiri di depan altar, menunggu. Ia menunduk hormat ketika Tari berhenti di depan Gema. Pastor itu tidak bertanya banyak. Gema sudah mengatur semuanya. Surat-surat. Izin. Bahkan janji suci. Semua sudah disiapkan.
Gema menyodorkan tangan, dan Tari hanya menatapnya kosong beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan tangannya di sana. Hangat. Tapi tidak menenangkan. Hanya mengikat.
“Saudara dan saudari dalam Kristus,” suara Pastor lembut namun tegas, “hari ini, dua insan datang di hadapan Tuhan, membawa niat suci untuk menyatukan hidup mereka dalam pernikahan. Meskipun dalam kesederhanaan, pernikahan ini tetap sakral di mata Tuhan.”
Tari masih menunduk. Ia mendengar suara Pastor seperti gema jauh yang tidak menyentuh hatinya. Yang ia rasakan hanyalah berat di dadanya. Langkah-langkah yang ia tempuh menuju altar tadi terasa seperti menyeret rantai yang tidak ia inginkan.
“Kita berkumpul di sini dalam keheningan, di hadapan Tuhan, untuk menyatukan dua jiwa dalam ikatan pernikahan yang kudus.”
Tari ingin tertawa. Kudus? Apa yang kudus dari hubungan ini? Ia bahkan tidak yakin ia akan keluar dari gereja ini sebagai dirinya yang sama.
“Apakah kamu, Gema Abimanyu Wijaya, dengan tulus menerima Tari sebagai istrimu, dan berjanji akan mencintainya, menghormatinya, dan setia padanya sepanjang hidupmu?”
Gema mengangguk. “Saya bersedia.”
Pastor kemudian menoleh ke arah wanita yang kini menatap ke depan dengan tatapan kosong.
“Dan kamu, Tari Andriani, apakah kamu dengan tulus menerima Gema Aditya Rendra sebagai suamimu, dan berjanji akan mencintainya, menghormatinya, dan setia padanya sepanjang hidupmu?”
Ada jeda. Sunyi.
Tari menggigit bibirnya.
Hera menatap tajam ke arahnya. Pastor menunggu. Gema menghela napas. Lalu, dengan suara yang hampir tidak terdengar, Tari menjawab.
“Saya... bersedia.”
Pastor mengangguk. Ia lalu mengangkat tangannya untuk memberkati pasangan di hadapannya. Doa diucapkan, sakramen disampaikan, dan kemudian mereka diminta untuk bertukar cincin.
Gema memasangkan cincin di jari manis Tari dengan tangan yang gemetar. Tangannya sempat menyentuh kulit wanita itu, tapi Tari cepat menariknya. Ia hanya menyodorkan tangannya tanpa ekspresi.
Kini gilirannya.
Tari mengambil cincin dari wadah beludru, lalu menatapnya sejenak. Mata cokelatnya tampak kosong. Ia tidak tersenyum. Tidak pula menatap mata Gema saat menyarungkan cincin ke jari laki-laki itu.
Gema menahan napas. Ia ingin mengucapkan sesuatu. Tapi mulutnya terkunci. Di dalam dirinya ada kekacauan. Ia tahu ini salah. Tapi ia juga merasa menang. Setidaknya, kini Tari menjadi miliknya lagi, secara hukum, secara agama.
“Dengan ini, saya menyatakan kalian telah sah menjadi suami istri di hadapan Tuhan,” ujar Pastor sambil membuat tanda salib. “Semoga Tuhan memberkati pernikahan kalian.”
Tak ada tepuk tangan. Tak ada peluk bahagia. Hanya keheningan yang mengikat lebih keras daripada sumpah itu sendiri.
Gema menyentuh tangan Tari dan menggenggamnya kuat. “Akhirnya kita di tempat yang seharusnya,” bisiknya lirih.
Tari tidak membalas. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya jauh ke tempat lain. Ke masa di mana ia masih bisa menolak. Ke waktu di mana hatinya belum terkunci dalam rantai bernama ‘kenangan’.
Setelah pemberkatan selesai, mereka berjalan ke ruang belakang untuk menandatangani dokumen. Meja kayu tua dengan dua kursi menghadap satu sama lain. Di tengah, buku besar terbuka. Pastor menyerahkan pena pertama ke Gema. Ia menandatangani dengan yakin. Lalu giliran Tari.
Tangannya bergetar ketika menyentuh pena. Nama yang akan ia bubuhkan di sana bukan hanya tanda tangan. Itu adalah cap yang akan mengikatnya selamanya dalam pilihan yang ia sendiri tidak sepenuhnya inginkan.
Ia menulis perlahan. Tari Andriani.
Begitu tinta menempel di kertas, seakan semua sudah tidak bisa diulang kembali.
“Selamat,” ucap Pastor. “Semoga Tuhan memberkati rumah tangga kalian.”
Gema mengangguk, lalu menoleh ke Hera. “Terima kasih sudah datang, Tante.”
Hera hanya menatap Tari dengan sorot mata tajam. “Kamu sudah jadi istri laki-laki ini sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk berpura-pura bingung. Hadapi semuanya.”
Tari tidak menjawab. "Semua karena kamu dukung dia! Sekarang bukan cuman saya yang sakit, istri dia juga jadi korban!"
Ia hanya berdiri dari kursi dan berjalan ke luar gereja. Udara dingin menyambutnya, menusuk kulit dan tulangnya. Tapi di antara semua rasa dingin itu, hanya satu yang lebih menusuk: kenyataan bahwa ia kini milik seseorang yang pernah membuatnya luka, dan belum tentu berhenti.
Gema menyusul dari belakang, berdiri di sampingnya. “Kita bisa mulai lagi, Tar. Semua dari awal. Aku janji, kali ini aku gak akan ninggalin kamu.”
Tari menoleh pelan, menatap mata laki-laki itu.
“Aku gak pernah pengen jadi istri kamu dengan cara kayak gini, Ge.”
“Tapi kamu jadi istri aku sekarang,” jawab Gema cepat. “Dan kamu tahu itu satu-satunya cara supaya kamu tetap di sisiku. Kamu yang bilang kamu gak mau jadi perusak rumah tangga orang. Kamu bukan orang ketiga Tar. Aku milih kamu.”
Tari menggeleng pelan. “Tapi aku gak pernah milih kamu kali ini.”
“Tar...”
Ia memalingkan wajah. “Udah cukup. Jangan paksa aku bahagia di situasi yang bahkan gak aku rancang.”
"Aku bisa bahagia in kamu. Aku bakal pastiin kamu aman di dekat aku."
Gema menggenggam tangan Tari, tapi kali ini wanita itu menariknya cepat. "Terakhir kali juga kamu janji soal itu kan, nyatanya?" Ia berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan di luar gereja.
Hari itu, tidak ada pesta. Tidak ada tawa. Tidak ada pelukan dari sahabat. Hanya janji yang tertulis di atas kertas, yang tak pernah benar-benar lahir dari hati yang utuh.
Dan di bangku belakang mobil yang membawa mereka pulang, Tari hanya bisa memejamkan mata. Menahan napas panjang. Ia telah menikah. Ia telah menyerah.
Tapi ada satu hal dalam kepalanya sekarang. Keamanan ibunya adalah hal terpenting. meski harus mengorbankan dirinya sendiri.
Dan entah bagaimana, ia merasa... semakin jauh dari dirinya sendiri.