Bukan Orang Ketiga | Bab 8

1113 Words
POV GEMA ABIMANYU WIJAYA Kalian sudah membaca karakter saya kan? Yah, inilah saya. Gema Abimanyu Wijaya. Saya marah ketika tau bahwa Ajeng menemui Tari. Ajeng memang tidak berbahaya, tapi dia mampu untuk menjauhkan saya dan Tari. Langkah saya terasa berat, meski mobil melaju kencang di jalanan yang lengang. Jalanan basah bekas hujan menggambarkan isi kepala saya yang kacau. Tangan saya mencengkeram setir, sementara bayang-bayang Tari masih mengendap di belakang mata. Dia masih mencintai saya. Saya bisa lihat itu dari caranya menatap. Dari bibirnya yang bergetar saat ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia ingin menjauh. Tapi kenapa? Kenapa setiap saya mendekat, dia makin melawan? Tapi bukan itu yang paling mengganggu saya sekarang. Ajeng. Saya menatap cermin tengah. Pandangan saya menembus kegelapan malam dan kilatan lampu jalan yang membelah bayangan. Saya tahu ke mana saya akan pergi. Mansion keluarga Atmodjo. Rumah besar yang kini hanya dihuni oleh Ajeng, istri saya. Dia kerap kesana saat marah pada saya atau hanya sekedar tidak menyukai sikap saya. Hanya tempat itu pelarian satu-satunya. Mobil saya berhenti di depan gerbang besi yang dipoles dengan cat warna putih dan emas. Saya tekan bel dan dalam beberapa detik, gerbang perlahan terbuka. Saya oun melangkah kan kaki untuk masuk ke sana, membiarkan mobil saya terparkir sembarangan di depan sana. Lampu mansion menyala terang secara otomatis, sepatu saya menggema di atas marmer foyer yang dingin. Langit-langit tinggi dan lukisan tua di dinding menyambut saya seperti biasa, tapi malam ini mereka terasa menilai. Lalu saya melihatnya, Ajeng. Ia duduk di sofa panjang dengan buku di pangkuannya yang bahkan tidak terbuka. Matanya sudah lebih dulu menatap saya tajam. Seolah tahu. Seolah tak butuh bukti. “Mas Gema,” ucapnya pelan. Dingin. Saya melangkah maju setidaknya sampai sepuluh langkah di dekat wanita itu. "Tumben para pengawal kamu gak ada?" "Gak usah pura-pura gak tau. Aku kan nyuruh mereka buat cari tau dimana kamu umpetin perempuan itu." Ajeng menatapku dengan sinis. Aku menghembuskan nafas ku. "Urusan aku sama perempuan itu gak ada hubungannya dengan kamu." "Oh ada Mas, ada!" Ajeng berdiri dari tempatnya, berjalan perlahan mendekati ku. "Karena dia kan kamu jadi nanyain soal perasaan aku?" Saya tak langsung menjawab. Saya tarik napas dalam, mencoba mengatur emosi. Saya tidak suka ditanya seperti itu. “Ajeng, jangan mulai pakai nada interogasi ke aku. Aku suamimu, bukan tersangka kriminal.” “Tapi kamu bertingkah kayak penjahat, Mas.” Saya memutar bola mata. “Jangan dramatis, Ajeng.” “JAWAB!” Teriaknya, berdiri. Buku yang sejak tadi di pangkuannya jatuh ke lantai dengan suara keras. Saya terdiam. Nafas saya memburu. “Jawab aku, Gema. Kamu ragu karena dia kan?” Saya menatap penampilan Ajeng dari atas sampai bawah. Biasanya di rumah dia hanya akan memakai Piyama satin dengan bahan tipis dan rambut yang terurai rapi. Sekarang ia memakai kemeja dan celana hitam formal serta rambut yang acak-acakan. Wanita di depn saya ini pasti habis mengamuk. “Iya,” saya jawab akhirnya. Ia menarik napas seperti habis ditonjok. Lalu bibirnya mengembang dalam senyum sinis. “Gak kaget sih Mas." Ujarnya sambil menggelengkan kepalanya. Saya melangkah mendekat, tapi ia mundur. “Dengerin dulu—” “Enggak! Kamu yang harus dengerin!” Tangannya menunjuk ke arah saya. "Aku udah mohon sama kamu buat berusaha demi hubungan kita. Tapi nggak mas, sekali aja kamu gak pernah coba itu." Saya menunduk. Karena semua itu benar. "Kamu bukannya gak bisa lupain dia, kamu cuman gak mau! Kamu anggap semuanya boneka kamu. Aku, orang tua aku, pernikahan ini. Semuanya!" Saya mendekat, pelan. “Aku gak main-mainin kamu.” “TERUS APA MAS?!” Ia menjerit. “Kamu tidur sama dia?!” Saya geleng pelan. “Enggak, aku gak...” “Tapi kamu pengen kan?” Suaranya bergetar. “Kamu pengen itu terjadi, iya kan?” Saya tak mampu menjawab. Ajeng tertawa hambar. “Kamu b******n Mas." Ujarnya kemudian berbalik hendak pergi dari sana. Sy dengan segera mencegahnya dengan memegang tangannya erat. Saya terdiam sebentar karena ragu, hingga akhirnya. "Aku mau nikahin Tari." "APA?!" Ajeng berbalik. Menatap ku dengan sangar. "Kamu gila Mas, bisa-bisanya kamu mau bertindak sejauh ini!" "Kamu juga gak bisa kan kasih keturunan buat aku? Aku bisa kasih alasan itu ke keluarga aku." Wanita itu menganga. "GIMANA CARANYA AKU KASIH KAMU ANAK KALAU KAMU AJA BARU SENTUH AKU SEKALI!" Ajeng mendorong dadaku hingga menjauh beberapa langkah darinya. "Itupun pas kamu mabuk kan? Kamu bahkan sebut nama perempuan itu..." Ujarnya lirih "Ajeng, please. Kita bakal nikah diam-diam. Gak ada pesta, gak ada orang yang tau. Aku cuman dia nemenin aku." Ia menarik nafasnya sesak. "Aku bakal ngaduin ini ke keluarga kamu! Kamu pikir Papah kamu gak bakal marah karena berita ini?" Saya memasukkan tangan saya ke dalam saku celana. "Tanyakan saja. Dia bahkan punya banyak simpanan bahkan saat ini. Kamu harus tau kalau dia lebih b******n dari saya." "Kamu pikir keluarga Atmodjo bakal diam hah?" "Kamu mau minta tolong siapa? Om kamu itu?" Saya berdecih. "Papah kamu nikahin kamu sama saya karena dia, gak mau kalau warisan jatuh ke tangan om kamu yang serakah itu." Ajeng menggeleng pelan. "Saya bisa lakuin sendiri. Ibu perempuan itu ada di rumah sakit kan? Aku bisa suruh orang buat ancem dia." "Coba aja." Saya menatap mata Ajeng yang sedang kalut. "Bahkan papah aku aja gak bisa ganggu ibunya Tari, apalagi kamu." Tentu saja. Yayasan Rumah Sakit itu seluruhnya di kuasai oleh Tante Hera. Gak ada satupun keluarga Wijaya yang bisa ganggu itu. Ajeng menggigit bibir bawahnya dengan getar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam erat seolah sangat tertekan. Wanita itu menatap saya dengan wajah yang seperti meledak dalam diam. Ia menarik nafas panjang. “Mas tahu gak, waktu aku tahu kamu ketemu Tari lagi, aku gak langsung marah. Aku nunggu kamu jujur. Tapi sekarang, setelah kamu ngaku dan buat keputusan itu, aku malah kecewa karena kamu gak punya keberanian buat mutusin aku dulu sebelum ngejar dia.” Saya menghela napas. “Karena gak ada keuntungan dari perceraian kita." "Aku janji sama Papah kamu. Buat bimbing kamu, nemenin kamu biar bisa mimpin perusahaan keluarga Atmodjo dengan mandiri suatu hari nanti. Tapi itu bukan berarti aku janji soal perasaan aku." Langkah kaki saya perlahan maju, kemudian menyentuh pundak wanita itu dengan kembut. "Aku sayang banget sama dia Ajeng. Kamu butuh aku, dan aku butuh dia. Please.." Ajeng mulai terisak. Dia perlahan jatuh dan duduk di atas lantai yang dingin itu. Memeluk lutunya sendiri untuk menyembunyikan wajahnya yang sembab. Sementara saya? Memilih berjalan pergi dari mansion ini. Saya tau Ajeng butuh waktu, dan saya juga tau. Bukan saya yang Ajeng perlukan saat ini. Pandangan saya menatap sosok ber jas lengkap yang masih tegak berdiri di depan pintu. Juan, sang sekretaris keluarga Atmodjo. Saya tau pria itu lebih tau cara meng-handle wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD