🌼4🌼

1131 Words
Nathan menepis tangan gadis itu dengan kasar lalu melangkah cepat menuju Angel. Mata Angel menyipit tajam, siap mengatakan sesuatu namun sebelum satu kata pun keluar, Nathan tiba-tiba merangkul pinggangnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Jangan bicara,” bisiknya rendah. Angel terkejut, tubuhnya seolah dibawa begitu saja saat Nathan mendorongnya keluar dari restoran. Di belakang, gadis bergaun mini itu berteriak histeris, mengancam, memaki, merasa dilecehkan dan ditolak. Namun Nathan terus menyeret Angel tanpa menoleh sedikit pun. Begitu tiba di area parkiran depan, Nathan melepaskannya. Angel langsung mendorong d**a Nathan dengan keras. “Apa maksudmu barusan?!” serunya marah. “Apa kau baru saja memanfaatkan aku?” Nathan mendengus pendek, seolah itu pertanyaan konyol. “Aku hanya tidak ingin menikahi gadis manja seperti itu. Terlalu merepotkan.” Angel terpaku sejenak, lalu tawa pahit lolos dari bibirnya. “Tapi itu bukan berarti kau bisa seenaknya memanfaatkan aku, Nathan!” Nathan menatapnya datar, sama sekali tidak terganggu oleh amarah Angel. “Aku terpaksa,” ujarnya datar. “Tapi jangan terlalu percaya diri. Kalau pun bukan kamu yang ada di sana, aku tetap akan melakukan hal yang sama.” Angel terdiam. Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada yang ia kira. Nathan menatapnya sejenak, lalu menarik napas pendek. “Selamat malam.” Begitu saja. Tanpa rasa bersalah. Tanpa penjelasan lagi. Ia membuka pintu mobilnya, masuk, dan menyalakan mesin. Mobil itu melaju meninggalkan Angel yang berdiri di tengah parkiran, marah setengah mati, rasa tersinggung dan terhina bercampur menjadi satu. *** Esok paginya, Angel baru saja sampai lobi kantor ketika terdengar langkah cepat di belakangnya. Bella muncul dengan wajah sedikit panik. “Kenapa kamu semalam langsung pulang? Aku cari kamu, aku telepon juga,” keluh Bella. Angel tersenyum hambar. “Maaf… mood-ku mendadak rusak karena seseorang.” Bella langsung melotot. “Apa itu aku?” Angel menggeleng cepat. “Bukan. Dan percayalah, kamu tidak akan mau mengenalnya.” Bella ingin bertanya lebih jauh, tapi Angel sudah berjalan menuju lift. Mereka masuk, beberapa pegawai lain ikut bergabung. Tepat ketika pintu hampir menutup, Nathan terlihat berjalan menuju lift dengan ekspresi datar seperti pagi biasa, seolah tidak ada drama semalam sama sekali. Angel langsung mematung sepersekian detik, kemudian dengan refleks hampir kekanak-kanakan, ia menekan tombol untuk menutup pintu. Pintu lift langsung bergeser menutup tepat saat Nathan hampir masuk. Nathan menabrak pintu lift yang tertutup. Bella terkejut sampai menutup mulutnya, dan beberapa pegawai lain ternganga menahan napas. “Angel!” bisik Bella panik. “Kamu ngapain?!” Angel mengangkat bahu, memasang wajah paling tenang padahal jantungnya berdegup marah dan gugup. “Lift-nya sudah penuh.” Pegawai-pegawai di dalam lift otomatis menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing, tidak berani ikut campur. Bella menatap Angel tajam. “Ini tidak penuh sama sekali.” Angel berdeham, menghindari tatapan Bella. “Sekarang penuh oleh rasa malas melihat wajah seseorang.” *** Ruang rapat siang itu penuh dengan suara kertas dibalik dan klik-klik laptop. Angel berdiri di depan layar presentasi, pointer di tangan, wajahnya fokus dan tegas. Semua mata tertuju padanya, termasuk Nathan, yang duduk santai di kursi tengah, lengan bersilang, tatapannya tidak lepas sedetik pun. “…dan itu adalah rencana promosi kuartal kedua yang saya susun,” ucap Angel mengakhiri penjelasannya. Ia menutup presentasi dan sedikit membungkuk. Para manajer mengangguk, beberapa memberi pujian kecil. Angel merasa lega setidaknya profesionalismenya masih bisa bertahan di tengah kekacauan emosinya. Dengan langkah mantap, ia hendak berjalan kembali ke kursinya. Namun tepat saat ia lewat di depan Nathan, sesuatu terjadi. Kaki Nathan bergerak pelan, sangat pelan, tapi sengaja. Ia mengulurkan kakinya sedikit ke depan, panjang, presisi. Angel tidak sempat melihat. Ujung sepatunya menyentuh ujung tumit Nathan. Dan membuat Angel tersandung. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan, tangannya refleks meraih meja terdekat agar tidak jatuh. Kursi beberapa orang bergeser panik. Nathan tidak bergerak. Tidak menolong. Tidak pura-pura kaget. Justru… ia tersenyum lebar. Senyum licik, sangat puas, begitu jelas hingga Angel tahu itu bukan kecelakaan. Ia melihat Angel dengan tatapan tanpa bersalah sama sekali. Angel menghela napas pendek, menahan diri agar tidak meledak di tempat. Ia meluruskan tubuhnya, memastikan wajahnya tetap datar meskipun pipinya memanas oleh rasa malu dan marah. “Tidak apa-apa?” salah satu manajer bertanya cemas. Angel tersenyum tipis. “Tidak. Saya baik-baik saja.” Ia kembali ke kursinya tanpa menoleh ke arah Nathan lagi. Sementara dari sudut matanya, ia bisa melihat Nathan menyandarkan punggung ke kursi, ekspresi puas seperti anak kecil yang berhasil usil. ** Sejak hari itu, perang dingin berubah menjadi perang kecil yang nyata. Angel dan Nathan seolah-olah terlibat kompetisi tidak tertulis, siapa yang lebih mampu membuat hidup lawannya kacau tanpa meninggalkan bukti. Dan itu berlangsung… lebih dari seminggu. Setiap hari ada saja kejadian baru. Saat Angel meninggalkan berkas rapi di mejanya, tiba-tiba beberapa lembar menghilang. Ia menemukannya terselip di meja receptionist dengan catatan kecil penuh ejekan halus. Tulisan tangan Nathan. Ia yakin itu. Di lain hari, Nathan sedang bersiap melakukan meeting penting, tapi pointer presentasinya menghilang. Angel hanya menatapnya sambil meminum kopi, pura-pura tidak tahu apa-apa. Jika mereka bertemu di koridor, perang pandangan selalu terjadi. Nathan akan melintasi Angel seolah tidak sengaja membuat bahunya menyenggol sedikit terlalu keras. Angel membalas dengan membiarkan pintu menutup tepat di depan wajah Nathan setiap kali ia punya kesempatan. Suatu pagi, Angel masuk ke ruangannya dan mendapati kursinya disetel sangat rendah. Saking rendahnya, ia hampir jatuh ketika duduk. Ia mendongak tajam ke arah kaca, tepat saat Nathan lewat sambil tersenyum tak berdosa. Sore harinya, gantian Nathan yang mendapatkan tumpukan laporan revisi setebal bantal di mejanya, semua memerlukan tanda tangan darinya. Angel hanya lewat sambil berkata dalam hati selamat bekerja. Di lift, mereka tidak bicara. Tapi atmosfernya selalu penuh listrik. Pelan, diam-diam, tapi terasa. Para pegawai mulai memperhatikan ada semacam ketegangan aneh antara manajer pemasaran dan presdir mereka itu. Tapi karena keduanya tetap bekerja profesional di depan umum, tidak ada yang berani bertanya. Hingga hari itu tiba, ketika seluruh divisi mendapat jadwal inspeksi ke pabrik produksi di pinggiran kota. Dengan nada tegas yang tidak memberi ruang penolakan, Nathan menunjuk Angel yang bertugas untuk pergi. “Karena Angel baru bekerja di sini, jadi sebaiknya kau yang pergi dan buatkan laporannya!” perintahnya. Angel hampir memprotes namun kalimat itu tidak pernah keluar. Semua orang menatap. Bella memberi isyarat kecil agar Angel menerima saja, dan Angel tahu ia tak bisa melawan perintah langsung dari presdir tanpa alasan yang jelas. Dengan ekspresi jengkel disembunyikan setengah mati, Angel mengambil berkasnya dan berjalan menuju lobi. Setiap langkah terasa berat, seolah menuju hukuman. Nathan sudah menunggunya di sana, berdiri dengan tangan di saku, terlihat terlalu santai untuk seseorang yang baru saja memaksa bawahannya ikut bersamanya. Angel mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan emosinya. “Kau yang menyetir!” ucap Nathan sambi melempar kunci mobil membuat Angel harus menangkapnya dengan tanpa sengaja menjatuhkan seluruh map yang ia bawa. Angel melirik tajam pada Nathan yang sudah masuk ke dalam mobil dengan senyuman kepuasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD