Kini Angel sudah duduk di kursi pengemudi, jemarinya mencengkeram setir dengan tekanan yang hampir membuat buku jarinya memutih. Di sisi lain, Nathan duduk dengan seenaknya, kacamata hitam, wajah santai, bahkan satu kakinya naik ke atas dashboard.
Angel mencoba mengabaikannya dan fokus pada jalan.
Namun Nathan jelas tidak berniat memberi ketenangan.
Ia mengetuk-ngetuk dashboard dengan ritme asal, lalu memainkan AC, menaikkan volume radio, menurunkannya lagi, dan berkomentar hal-hal yang tak perlu.
“Kalau kau menyetirnya terlalu pelan seperti ini, kita sampai besok pagi,” gumam Nathan santai.
Angel menahan diri untuk tidak menoleh. “Aku menyetir dengan aman. Tidak semua orang terbiasa hidup dengan privilege dan supir pribadi seperti dir—”
Nathan memotong. “Ah, jadi kau cemburu?”
Angel seperti hendak meledak.
Nathan mengganti posisi duduknya lagi, kali ini bersandar dan mengetuk kaca jendela suara yang entah kenapa terasa seperti palu di kepala Angel. Lalu Nathan kembali bersuara.
“Angel, serius… kau bisa lebih cepat kan? Maksudku, kalau kau memang mampu.”
Angel mengerang dalam hati. “Nathan!”
Nathan malah semakin santai. “Iya, iya… aku hanya bilang. Kau terlalu tegang, rileks sedikit.”
Ia bahkan mengambil botol air mineral dari kompartemen dan menyerahkannya ke Angel… padahal Angel sedang menyetir.
“Nih, minum dulu. Biar tidak gug—”
Angel mengerem mendadak.
Nathan hampir terlempar ke depan, kacamata hitamnya sedikit melorot. Angel menatapnya dengan mata membelalak, napas naik turun, kesabaran sudah habis.
“Diam!!” teriak Angel, nada suaranya meledak memenuhi kabin.
“Kalau kau ganggu aku satu kali lagi, aku sumpah aku turun sekarang dan kau boleh menyetir sendiri sampai pabrik itu terbakar!”
Nathan membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya sejak pagi ini, ia terlihat benar-benar terdiam bahkan ciut.
Ia menelan ludah, memperbaiki posisi duduknya, menurunkan kakinya dari dashboard secara perlahan seperti anak kecil ketahuan salah.
“Baik,” gumam Nathan pelan.
Angel menyalakan kembali mobil, menatap lurus ke depan, mencoba menangkap kembali kewarasannya.
Dan selama lima menit penuh setelah itu, Nathan Merced benar-benar diam.
***
Setelah perjalanan panjang yang diwarnai keheningan canggung, akhirnya mobil berhenti di depan gerbang besar pabrik Merced Group di pinggiran kota. Gedung itu luas, berwarna abu-abu, dengan aktivitas pekerja dan kendaraan logistik yang hilir-mudik. Angel turun dari mobil sambil menarik napas panjang, setidaknya di sini ia bisa menjauh dari Nathan… atau itulah harapannya.
Namun harapan itu langsung hancur ketika Nathan berdiri di sampingnya, tangan di saku, lalu berkata santai.
“Ayo. Kau kan butuh data untuk laporanmu.”
Nada suaranya terdengar normal, tapi Angel tahu Nathan memilih nada itu agar terlihat berwibawa. Dan anehnya, ia tetap berjalan duluan, memaksa Angel untuk mengikutinya seperti anak magang yang sedang orientasi.
Angel menghela napas dan mengejar langkah Nathan yang dibuat sengaja panjang. Mereka masuk ke dalam area produksi, tempat aroma s**u dan uap mesin bercampur memenuhi udara. Para pegawai memberi salam hormat ketika presdir mereka datang. Nathan hanya mengangguk kecil, menunjukkan aura bos besar yang ia bangun sejak dua tahun lalu.
Angel, di sisi lain, harus berjalan lebih dekat untuk mendengar penjelasan kepala bagian produksi yang menjelaskan tentang alur pasteurisasi dan proses pengepakan. Ia mencoba fokus mencatat, meski harus terus-menerus mengikuti arah Nathan yang tampak seperti sedang melakukan inspeksi serius.
Padahal Angel tahu, tidak semua ini sebenarnya perlu dilakukan oleh presdir. Kepala divisi biasanya bisa mengurusnya. Tapi Nathan seolah ingin memperlihatkan otoritasnya.
Nathan berhenti di depan mesin pasteurisasi. “Catat peningkatan konsumsi daya di mesin dua,” katanya datar.
Angel menahan diri untuk tidak menjawab sinis.
Ia menulis cepat.
Mereka bergerak ke koridor lain. Nathan sengaja membuka setiap pintu, berjalan seperti benar-benar mengecek setiap titik. Bahkan ketika kepala bagian berkata bahwa ruangan itu hanya gudang kemasan yang sudah dicek seminggu lalu, Nathan tetap masuk dan mengamati seakan sedang mencari celah.
Angel mengikuti dari belakang, memutar mata pelan.
"Benar-benar… ini seperti tur pabrik khusus untuk menyiksaku."
Ketika memasuki ruang pendingin, Nathan berbalik mendadak, membuat Angel hampir menabraknya. Ia mundur selangkah, menahan diri agar tidak mengumpat.
“Kau lambat,” ujar Nathan datar.
Angel mengatupkan gigi. “Aku sedang mencatat.”
“Kau bisa mencatat sambil berjalan.”
“Dan kau bisa berjalan sambil memberi jeda agar orang lain tidak tertabrak punggungmu,” balas Angel dalam hati.
Namun ia hanya menghela napas dan melanjutkan.
Mereka keluar ke area pengepakan, mesin-mesin bekerja cepat, suara kardus dilipat dan disegel memenuhi ruang. Nathan menunjuk sebuah palet berisi produk yang siap dikirim.
“Pastikan kau masukkan ini ke laporan. Distribusi meningkat,” katanya.
Angel mencatat lagi. Ia sudah berkeringat, bukan hanya karena suhu pabrik yang panas, tetapi karena ia harus terus menyesuaikan diri dengan langkah dan perilaku Nathan yang menyebalkan.
Setelah hampir satu jam berjalan ke sana kemari, Angel akhirnya berbisik pada dirinya sendiri,
“Dia benar-benar melakukan semua ini hanya agar aku capek, kan?”
Rute inspeksi yang seolah tak ada habisnya akhirnya mulai memukul tubuh Angel. Langkahnya semakin berat, napasnya terasa pendek, dan dunia sedikit bergoyang. Ia masih berusaha mencatat sambil mengekor Nathan yang berjalan terlalu cepat di depannya, tapi huruf-huruf di kertas mulai tampak kabur.
“Angel, cepat sedikit—” suara Nathan terdengar lagi, tajam, dan seketika itu pula pandangan Angel berputar.
Ia berhenti, memejamkan mata sesaat.
“Ah… sebentar…,” gumamnya pelan.
Namun tubuhnya tidak menunggu. Dalam hitungan detik, lutut Angel melemas dan ia ambruk ke lantai pabrik.
“Angel!” Nathan langsung berbalik. Panik yang selama ini tidak pernah muncul di wajahnya, kini tampak jelas. Ia berjongkok, memegang bahu Angel yang tak bergerak.
“Angel! Hei!” serunya lagi, suaranya serak dan terdengar putus asa.
Tanpa pikir panjang, Nathan mengangkat Angel dalam gendongan bridal, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan untuk mantan kekasih yang selalu membuat emosinya naik turun sejak mereka bertemu kembali. Para pekerja menatap terkejut, namun Nathan tidak peduli. Dengan langkah cepat, ia membawa Angel menuju klinik pabrik.
Setibanya di sana, seorang dokter dan perawat langsung mengambil alih.
“Taruh di sini, Pak,” ujar dokter sambil menunjukkan ranjang pemeriksaan.
Nathan dengan hati-hati membaringkan Angel, tapi ia tidak pergi. Ia berdiri di sisi ranjang, gelisah, tangan mengepal, mata tak lepas dari wajah Angel yang pucat.
“Kenapa dia bisa pingsan? Dia baik-baik saja tadi,” Nathan bersuara, namun suaranya terdengar seperti seseorang yang mencoba menutupi ketakutan.
Dokter memeriksa tekanan darah, detak jantung, dan beberapa kondisi umum lainnya. Nathan menunggu di samping, tubuhnya tegang. Ketika dokter akhirnya selesai, Nathan mendekat, tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.
“Bagaimana keadaannya?” tanyanya cepat.
Dokter menatap Nathan sejenak, lalu memandang Angel yang masih terbaring lemah. Senyuman kecil muncul di wajahnya sebelum ia menuliskan sesuatu di catatan medis.
“Keadaannya stabil, tidak perlu terlalu khawatir,” ucapnya.
Nathan mengembuskan napas lega, namun itu belum selesai.
Dokter melanjutkan dengan nada yang jauh lebih tenang namun penuh makna.
“Dan selamat, Pak. Dia hamil.”
Nathan membeku.