KMP. SATU

926 Words
Empat belas februari, tanggal dimana orang menyebutnya hari kasih sayang terhadap kekasih atau keluarganya. Bunga dan coklat memenuhi etalase setiap supermarket. Bahkan ada toko yang buka segala pernak pernik valentine di hari sebelum hari kasih sayang itu tiba dan hanya dikhususkan untuk hari itu saja, nanti setelah selesai toko itu berubah kembali seperti biasa menjadi toko kelontong. Teresa Wayne, wanita berusia dua puluh lima tahun yang sampai saat ini belum memiliki kekasih, bahkan tidak pernah terdengar memiliki teman spesial. Lalu apakah itu salah? Pertanyaan yang sama setiap kali ada orang yang melontarkan pertanyaan soal pasangan kepada Teresa. Teresa Wayne, wanita biasa-biasa saja dan bisa dibilang hidup serba pas-pasan. Meskipun wajahnya cantik dengan blasteran Indonesia Amerika tidak membuatnya hidup dengan enak. Ya, Teresa memang memiliki ayah kebangsaan Amerika, dan wajahnya memang lebih banyak ikut ke ayahnya ketimbang ibu nya yang berasal dari Indonesia. Kini Teresa tinggal di salah satu kota di daerah istimewa Yogyakarta bersama dengan neneknya seorang. Ibunya meninggal dunia sekitar delapan tahun yang lalu. Sedangkan ayahnya sama tidak ia ketahui. Hanya segelintir cerita dari neneknya saja. Itupun hanya sedikit karena beliau tidak ingin menceritakan siapa sosok ayah kandung Teresa. Ayah Teresa yang tidak diketahui dimana keberadaannya membuat Teresa yang sekarang sudah menginjak usia dewasa sangat penasaran akan sosok ayahnya itu. Kini, ditanggal empat belas februari, Teresa akan berangkat ke dimana ayahnya berada. Berkat buku diary milik mendiang ibunya, Teresa akhirnya sedikit menemukan sedikit titik terang siapa ayahnya itu. Fred atau Frederick Wayne, nama ayah kandung Teresa. Di buku diary yang ditulis oleh mendiang ibu Teresa saat ibunya menulis cerita awal mereka bertemu, yaitu kota New York. Sangat jauh untuk dijangkau, namun tekad kuat untuk bertemu dengan ayahnya membuat Teresa memiliki harapan untuk bertemu dengan ayah kandungnya. "Apakah kamu yakin ingin bekerja diluar negeri dengan ijazah pas-pasan? Apa tidak bisa kamu mencari pekerjaan disini saja? Itu terlalu jauh." Tanya nenek Teresa melihat cucunya sedang packing keperluannya diluar negeri. Terlihat wajah sendu dari wajah keriputnya. Teresa memang tidak mengatakan kepada neneknya jika dia ingin mencari ayah kandungnya. Karena Teresa tahu neneknya akan melarangnya untuk melakukan itu. "Iya, Uti!! Mohon doanya. Teresa ingin memperbaiki perekonomian keluarga." Teresa tersenyum meyakinkan neneknya. Meskipun dia juga merasa sedih harus berjauhan dengan neneknya. Teresa merasa bersalah harus membohongi neneknya karena tujuan utamanya pergi adalah untuk mencari ayahnya. Tapi Teresa juga tidak berbohong sepenuhnya, karena Teresa juga akan mencari pekerjaan disana sambil mencari ayahnya. Uti atau Mbah Putri, sebutan nenek dalam bahasa Jawa. "Kamu tidak sedang berbohong kepada Uti bukan?" Ucapnya. Teresa berhenti melipat pakaian ketika neneknya mengucapkan itu. "Uti harap kamu tidak sedang berbohong. Karena kamu tahu bukan, keluarga kita sangat tidak mentolerir kebohongan." Ujarnya. Teresa berbalik dan mendekati neneknya yang juga sedang duduk. Teresa memegang kedua tangan neneknya, lalu menggenggamnya. "Uti!! Teresa hanya meminta izin restu untuk mencari rezeki di negeri orang. Uti hanya perlu mendoakan Teresa disini agar Teresa bisa sukses dan mengangkat perekonomian keluarga." Ucapnya mencoba untuk tidak menutupi kebohongannya. 'Maafkan Teresa, Uti. Teresa hanya ingin tahu alasan ayah meninggalkan kita di saat ibu mengandung aku.' batin Teresa. Rasa bersalah menghinggapi dirinya saat Teresa menatap wajah sendu neneknya. Tapi rasa penasaran akan siapa ayah kandungnya lebih besar membuat Teresa mau tidak mau berbohong kepada neneknya. "Uti akan selalu mendoakanmu. Jaga diri kamu baik-baik disana. Kamu tahu bukan disana sesuatunya sangat wajar untuk mereka, tapi tidak dengan disini. Kamu harus bisa memilih orang yang baik untuk kamu jadikan teman. Jangan sampai karena salah memilih teman kamu menjadi sosok Teresa yang tidak Uti kenal." Sebulir air menetes melalui pelupuk nenek yang tidak kuasa menahan kesedihan karena akan ditinggal jauh oleh cucu satu-satunya. Teresa memeluk tubuh neneknya yang sudah renta. Lagi-lagi rasa bersalah itu datang karena sudah membohongi satu-satunya keluarga yang ada. 'Maafkan Teresa Uti, maaf.' ucap batinnya lagi. "Uti punya sesuatu untuk kamu." Nenek Teresa berdiri dan meninggalkan Teresa sendiri dikamarnya. Teresa hanya memperhatikan punggung renta neneknya yang sudah memiliki umur hampir satu abad itu. Teresa tidak tahu apa yang sedang diambil oleh neneknya. Tidak lama, datanglah nenek Teresa dengan membawa kotak hitam ditangannya. Nenek Teresa kembali duduk disamping Teresa dan membuka kotak yang ternyata isinya adalah sebuah kalung dengan bentuk kunci. "Ini satu-satunya milik mendiang ibu kamu. Pakailah ini agar kamu selalu mengingat ibumu." Nenek Teresa memakaikan kalung itu dileher Teresa. "Jaga diri kamu baik-baik disana. Dan kamu harus menjaga mahkota kamu untuk suami kamu kelak." Nenek Teresa memberikan wejangan untuk cucunya. "Nggih, Uti!! Teresa mendengarkan nasihat Uti." Ucapnya, lalu kembali memeluk neneknya. Mereka sama-sama menangis. Suatu ikatan batin yang sangat lekat di dalam diri mereka karena setelah kepergian mendiang ibu Teresa, mereka hanya berdua saja, tidak ada siapa pun lagi. ***** Teresa memandang langit-langit dikamarnya. Bohong jika Teresa merasa tidak khawatir ingin meninggalkan neneknya seorang diri dirumah tanpa ada siapapun. Tapi lagi dan lagi, Teresa sangat berharap ingin bertemu dengan ayahnya dan ingin tahu alasan ayahnya meninggalkan mereka. Besok pagi jam sembilan, Teresa sudah berangkat menuju airport untuk menuju kota New York. Mengambil langkah nekat untuk menemukan sosok ayahnya, Frederick Wayne. ***** Naina Maudy- Empat belas februari seribu sembilan ratus sembilan puluh empat. Hari dimana kita bertemu. Hari dimana saat musim gugur kita dipertemukan melalui sebuah daun yang jatuh tepat di kepalaku. Hari dimana aku melihat senyum itu untuk pertama kalinya. Hari dimana kau mengatakan aku wanita paling cantik dengan rambut panjang tergerai tertiup angin. Hari dimana kau mengulurkan tanganmu untukku. Dan hari dimana untuk pertama kalinya jantungku terasa memompa dengan tidak normal. Saat itu juga otakku langsung menginginkan setiap hari, menit dan detik untuk melihat senyummu setiap saat. Hari dimana pertama kali aku jatuh cinta padamu, Frederick Wayne.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD