BAB 16 - Bukan Gadis Nakal

1412 Words

​“Heuh?” Kanika mengerutkan dahi, bingung. Pertanyaan Fabian terasa begitu di luar nalar. Rasa sakit yang melilit di perutnya seketika tak terasa, tergantikan oleh keterkejutan. ​“Pendarahan ap-apa?” tanyanya, suaranya tercekat. ​“Ya, itu,” jawab Fabian sambil melirik ke area vital Kanika. Tatapannya membuat wanita itu meneguk ludahnya dengan pahit. ​Fabian sudah berpikir terlalu jauh, sampai Kanika sendiri bingung harus menjawab apa. Sebelum sempat menjawab, letupan halus yang familiar memecah keheningan, seolah menjadi jawaban atas pertanyaan Fabian. ​Tak berhenti sampai di situ, beberapa detik setelah bunyi itu terdengar, Kanika bergegas lari menuju kamar mandi. Fabian hanya bisa melihat punggungnya yang tergesa-gesa menghilang di balik pintu. Saat itulah ia mengerti, sakit perut

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD