“Ah?” Fabian gelagapan, dia tak menyangka gumamannya barusan bisa terucap dengan begitu lantang. Wajahnya seketika memerah, rasa malu yang tak terlukiskan merayap naik ke ubun-ubun. Semua wibawa yang coba ia bangun perlahan runtuh, tergantikan oleh ekspresi konyol seorang pria yang tertangkap basah. “Aku tanya, tadi Om bilang apa?” Kanika mengulang pertanyaannya, nada suaranya terdengar santai, seolah dia sedang menguji seberapa jauh Fabian bisa berkelit. Sontak Fabian memalingkan wajah, berpura-pura meneliti bantal sofa yang ia duduki. “Tidak, kamu salah dengar mungkin,” balasnya dengan begitu santainya, mencoba menutupi kegugupan yang melanda. Sedikit pun dia tidak bersedia mengaku. Bukan semata-mata karena gengsinya yang tinggi, tapi jelas saja ia merasa malu. Bagaimana tid

