Fabian sudah sesiap itu menunggu apa yang akan Kanika ucapkan, sampai napas pria itu bahkan tertahan. Namun, senyum tipis Kanika yang seolah merasa lucu dengan reaksinya membuat Fabian kian penasaran. Dia menunggu dengan sabar. “Bukan, aku tidak menginginkan apa pun sekarang.” Seketika wajah Fabian berubah datar, dia kecewa. “Lalu?” tanyanya, nada suaranya terdengar dingin. “Ehm, aku cuma mau tanya,” jawab Kanika lagi, kali ini ia tampak tak begitu yakin. Raut wajahnya berubah serius, seolah apa yang akan ia tanyakan sangatlah penting. Sontak Fabian mengerutkan dahi sampai matanya mengecil. “Apa?” desaknya, rasa penasarannya kembali menguasai. Kanika mengangkat tangannya, menunjuk ke sofa tempat Fabian duduk sebelumnya. “Bunga yang tadi di situ, apa Om lihat?” tanya Kanika kemudi

