Kanika mematung, matanya menatap layar ponsel yang menampilkan nomor Fabian di bagian atas percakapan. Rasanya seperti seluruh udara di ruangan itu mendadak menipis. Secara tak terduga, dia telah melakukan kesalahan yang cukup memalukan. Bagaimana tidak? mengirim pesan yang seharusnya ditujukan pada calon suaminya, Zidan. Lengkap dengan lampiran tawaran pekerjaan dari berbagai merek, dan yang terpenting, pertanyaan yang begitu personal. “Kenapa selalu dia?" batin Kanika frustrasi. Tangannya gemetar saat hendak menghapus pesan itu, tapi entah kenapa, dia tidak bisa. Matanya kembali membaca pesan balasan dari Fabian yang begitu menohok. || Menaikkan karir dari mana? Menaikkan bi-rahi pria yang benar!! Dan, yang tak terlupakan pesan kedua. || Jangan coba-coba, aku bisa membayarmu

