|| Seperti yang dulu aku katakan padamu, boleh-boleh saja, Kanika ... aku tidak akan mengekang kebebasanmu dalam berkarir, sekiranya membuat kamu bahagia lakukan, asal paham batas saja. Kanika menatap datar pesan itu. Jemarinya yang tadi siap membalas dengan riang kini lunglai di pangkuan. Rasa kesal yang sudah menguap sejak tadi sore, kini kembali membubung tinggi di dalam d**a. Dia menunggu hampir seharian penuh untuk jawaban ini, tapi apa gunanya jika kesempatan itu sudah lenyap? “Telat, Zidan,” gumam Kanika pelan, suaranya tercekat. Dia menutup ponselnya, membiarkan layar itu kembali gelap. “Kerja samanya sudah dibatalkan, kamu sih kelamaan.” Kalimat itu hanya terucap dalam hati, tak sampai ke Zidan. Untuk apa juga membalas? Pesan itu sudah basi, sama seperti tawaran pekerjaan y

