BAB 10 - Berusaha Menghindariku?

1965 Words
Kanika menghela napas panjang, perasaannya campur aduk antara bangga, gugup, dan takut. Ini kali pertama Zidan akan mengenalkannya kepada kolega sebuah langkah besar yang menunjukkan keseriusan hubungan mereka. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada rasa bersalah yang menusuk. Dia merasa seperti penipu, bersembunyi di balik sebuah rahasia. Zidan memintanya untuk memakai gaun terbaik, dan Kanika berniat menuruti perintah itu. Ia membuka lemari pakaian, matanya menjelajahi deretan gaun yang ia miliki. Pilihan-pilihan itu semuanya cantik, tetapi ia butuh satu yang bisa membuat dirinya tampak sempurna, jauh lebih baik dari wanita mana pun di sana. “Gaun in i... no,” gumamnya. “Terlalu biasa.” “Gaun itu?” Kanika menggeleng. “Terlalu terbuka.” “Kalau yang ini?” Dia menimbang-nimbang, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah gaun berwarna navy blue yang tergantung di sudut lemari. Gaun itu pernah ia pakai saat menghadiri acara ulang tahun Zidan. Gaun yang membuat Zidan terpesona, dan Kanika yakin, Zidan akan kembali terpesona melihatnya mengenakan gaun itu lagi. Kanika mengambil gaun itu dan meletakkannya di tempat tidur. Dia lalu bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia menatap dirinya di cermin, memeriksa setiap detail tubuhnya. Dia menemukan sebuah memar kecil di lengan dan lehernya, bekas dari pergulatan semalam. Kanika panik, ia mengutuk dalam hati. Tak mungkin ia membiarkan hal itu terlihat oleh Zidan. Dengan tangan gemetar, ia meraih foundation dan concealer. Segera dia memulaskan cairan ajaib itu di kulitnya, menutupi memar itu dengan cermat, seolah-olah bekas itu adalah aib yang harus disembunyikan. Setelah memar-memar itu tertutup, ia beralih ke riasan wajah. Kali ini, ia tidak akan memakai riasan biasa. Dia akan berani bereksperimen, menggunakan eyeliner dan eyeshadow yang lebih tegas. Ia harus terlihat kuat, percaya diri, dan tak tersentuh. Satu jam berlalu, Kanika akhirnya selesai bersiap. Rambutnya digelung rapi, riasan wajahnya sempurna, dan gaun navy blue itu membalut tubuhnya dengan anggun. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, merasa sedikit lebih lega. Dia tidak lagi terlihat seperti wanita yang baru saja menangis. Yang ada di hadapannya kini adalah Kanika yang kuat, mandiri, dan siap menghadapi dunia. Namun, di dalam hati, ia tahu. Semua ini hanyalah topeng. Di balik senyumnya, ada rahasia yang dia sembunyikan. Dan, ia hanya bisa berharap Zidan tidak akan pernah tahu. Tepat pukul tujuh malam, bel pintu apartemen Kanika berbunyi. Kanika menarik napas dalam, mengambil tas kecilnya, dan berjalan menuju pintu. Ia sudah sangat siap. Gaun navy blue yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, dan riasan wajahnya membuatnya tampak begitu menawan. ​Begitu pintu terbuka, jantung Kanika berdegup kencang. Di hadapannya, Zidan berdiri dengan aura yang memukau. Ia mengenakan setelan jas berwarna senada dengan gaun Kanika, membuat mereka terlihat serasi, seolah kode alam yang menunjukkan bahwa mereka memang ditakdirkan bersama. Zidan tersenyum hangat, senyum yang selalu berhasil membuat Kanika merasa tenang. ​“Kamu sudah siap?” tanya Zidan, matanya menelusuri penampilan Kanika dari atas sampai bawah, penuh kekaguman. ​“Ehm, siap, Zidan," jawab Kanika, suaranya tercekat. Dia bisa melihat bayangan dirinya di mata Zidan. Seorang wanita yang sempurna, tanpa cacat. Dia merasa bangga sekaligus malu. Bangga karena Zidan memilihnya, malu karena ia tahu dirinya bersembunyi di balik sebuah kebohongan. ​Pria itu mengulurkan tangannya, dan Kanika menyambutnya. Genggaman tangan Zidan terasa hangat, seolah memberikan kekuatan. Namun, di balik kehangatan itu, Kanika merasakan ketakutan yang menusuk. Wanita itu berjalan di samping Zidan menuju lift, merasa seperti seorang penipu. Setiap langkah terasa berat, seolah ia membawa beban yang tak terlihat. Malam ini, dia tidak hanya akan bertemu dengan kolega Zidan, tetapi juga akan bertemu dengan takdirnya sendiri. Akankah ia berhasil menyembunyikan kebenaran, ataukah rahasia itu akan terbongkar, menghancurkan segalanya? Kanika dan Zidan melangkah beriringan menuju mobil. Di dalam mobil, mereka duduk bersisian. Perjalanan itu terasa hening, hanya ada suara deru mesin dan irama musik yang mengalun pelan. Namun, di dalam diri Kanika, suasana terasa ribut. Jantungnya berdebar kencang, dia tak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi nanti. ​Dia gugup dan khawatir penampilannya akan memalukan. Apakah gaun ini cukup mewah? Apakah riasan wajahnya terlihat norak? Dia terus menimbang-nimbang, otaknya berputar mencari kemungkinan terburuk. ​Untuk sejenak, Kanika melupakan masalahnya dengan pria asing itu. Dia kini fokus pada perannya sebagai calon istri Zidan. Ia harus tampil sempurna, ia harus membuktikan kepada Zidan bahwa ia pantas berada di sisinya. ​“Kamu kenapa?” tanya Zidan, memecah keheningan. Ia terlihat tidak begitu santai, dan sorot matanya yang tajam membuat Kanika merasa kaku. ​“Gugup. Aku gugup sekarang,” jawab Kanika, suaranya tercekat. Ia meremas tangannya, mencoba mengendalikan kegugupannya. ​“Biasa saja.” Zidan menenangkan. “Kalau gugup bahaya.” ​Kanika menganggukkan kepala. Dia mencoba menarik napas panjang, mengendalikannya agar tidak terlihat tegang. Namun, ia merasa gagal. Tubuhnya terasa kaku, dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Perjalanan yang terasa begitu singkat kini terasa tak ada habisnya. Dia hanya bisa berharap, malam ini akan berjalan lancar, dan rahasianya akan tetap menjadi rahasia. Selang beberapa lama, mereka tiba di sebuah restoran mahal yang membuat Kanika makin gugup. Lampu gantung kristal yang berkilauan, taplak meja putih bersih, dan dentingan sendok garpu dari meja-meja lain membuat suasana terasa sangat formal. Kanika merasa seperti ikan yang keluar dari air. Belum juga bertemu dengan orangnya, tapi ia sudah merasa seperti akan gila. ​Zidan menyadari kegugupannya. “Mejanya di sana,” katanya sembari menuntun Kanika ke sebuah meja di sudut. “Kita akan menunggu ... orangnya cukup sibuk. Ayo, duduk dulu.” ​Tanpa menanggapi penjelasan Zidan, Kanika melirik ke kiri dan kanan, memperhatikan interior restoran yang mewah itu. Jika ia menggunakan uangnya sendiri, mungkin ia harus menabung dulu untuk bisa makan di sini. ​“Ck, Kanika,” suara Zidan tiba-tiba terdengar, membuatnya terlonjak. ​“Hah?” ​“Biasa saja, jangan kampungan begitu, apa susahnya?” Zidan berbisik pelan, tapi suaranya tajam. ​Kanika mengerjap. Dia agak terkejut dengan sikap Zidan yang tiba-tiba berubah. Namun, ia merasa tidak punya pilihan selain patuh. Mungkin Zidan benar, ia terlalu kampungan. Karena itu, Kanika mencoba bersikap lebih elegan. Dia duduk dengan punggung tegak, tangan di atas paha, dan mata lurus ke depan. ​Cukup lama mereka menunggu. Janji jam tujuh, tapi ini sudah hampir jam delapan. Kanika kesal, ia ingin sekali mengeluh, tetapi Zidan melarangnya untuk banyak bergerak. “Hanya perlu menunggu saja,” kata Zidan. ​Kanika menurut, meski ia merasa bosan dan perutnya sudah tidak bisa diajak kerja sama. Dia menunggu kehadiran rekan kerja Zidan yang katanya bukan orang biasa itu. Pikirannya melayang, bertanya-tanya siapa orang ini, dan mengapa Zidan begitu menghormatinya. Dia hanya bisa berharap, semua ini akan segera berakhir karena suasana hatinya mulai hancur karena menunggu terlalu lama. Lama semakin lama, Kanika semakin bosan. Ia mengalihkan perhatian dengan membuka ponselnya, menggulir layar tanpa arah dan tujuan. Sementara itu, Zidan tampak berkali-kali melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Kanika bisa memastikan bahwa kekasihnya itu juga mulai bosan. Sampai akhirnya, senyum Zidan terlihat mengembang, dan matanya berbinar. Zidan juga bergegas bangkit. Kanika menerka bahwa tamu yang mereka tunggu sudah datang. Karena itu, tanpa menunggu diperintah, Kanika memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan akan segera berdiri. Seorang pria dengan setelan jas hitam yang elegan melangkah mendekati meja mereka. Aura kuatnya langsung menarik perhatian. Pria itu tampak santai, namun Kanika bisa merasakan karisma yang menguar darinya. “Maaf lama, saya terjebak macet karena ada kecelakaan di perempatan sana,” ujar pria itu, suaranya terdengar berat dan dalam. “Ah, tidak apa-apa,” balas Zidan. “Saya mengerti, dan terima kasih atas kesediaan Anda untuk makan malam bersama saya, Pak Fabian.” Fabian? Mata Kanika seketika melotot sempurna. Dia yang sedari tadi belum sepenuhnya fokus, kini memberanikan diri untuk melihat orang yang menghampiri mereka. Pria itu menoleh ke arah Kanika, dan mata mereka bertemu. Di luar dugaan, yang kini tengah berjabatan tangan dengan Zidan adalah Fabian. Pria yang menghabiskan malam panjang bersamanya. Jantung Kanika berdegup kencang, nyaris meledak. Dia panik, seluruh tubuhnya menegang. Wajahnya terasa panas dan dingin secara bersamaan. Jelas saja dia berusaha mengendalikan diri, berpura-pura tenang, meskipun di dalam hatinya sudah terjadi kekacauan yang luar biasa. Fabian menatapnya lekat-lekat, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum itu, bagi Kanika, bukanlah senyum biasa. Itu adalah senyum pengakuan, senyum rahasia yang hanya mereka berdua pahami. Sontak Kanika menelan ludah, ia merasa seperti seekor tikus yang terperangkap. Malam yang seharusnya menjadi momen membanggakan, kini berubah menjadi mimpi buruk. Di sisi lain, Zidan yang begitu bahagia karena sosok yang begitu dia kagumi iri bersedia datang seketika tersenyum bangga. Tak lupa, dia menoleh ke arah Kanika dan memperkenalkan wanita itu sebagaimana arahan papanya. “Ah iya, Pak Fabian kenalkan, Kanika, calon istri saya." Jantung Kanika semakin berdegup tak karuan. Pria itu berusaha tersenyum, tetapi senyum itu terasa kaku dan dipaksakan. Namun, bukannya disambut, Kanika hanya diam hingga Zidan menyadari kegugupan Kanika. Dengan wajah yang sedikit tidak puas, ia menoleh ke arah Kanika dan berbisik pelan, hampir tak terdengar. “Apa yang kamu lakukan? Sudah kukatakan jaga sikapmu dan jangan membuatku malu, Kanika.” Teguran Zidan terasa seperti sebilah sembilu yang menancap di hati Kanika. Dia sudah tahu dirinya segugup itu, bahkan sampai terasa lemas, tetapi Zidan justru menekannya untuk bersikap sempurna. Ingin rasanya ia lari dari tempat itu, tapi mau tak mau dia harus mengalah. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Kanika mengulurkan tangannya lagi, kali ini ke arah Fabian. “Kanika,” ucapnya pelan, suaranya bergetar. Fabian menerima uluran tangan itu, genggamannya terasa hangat dan tegas. Dia tersenyum tipis, seolah mengerti semua yang terjadi. “Ah, iya ... Fabian,” jawab pria itu kemudian, suaranya tenang dan mantap. Kanika menahan napas. Fabian tidak terlihat terkejut sama sekali. Seolah, ia sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Tatapannya menembus topeng yang Kanika pakai, seolah ia bisa membaca semua rahasia yang ia sembunyikan. Di detik itu juga, Kanika merasa bahwa ia telah kalah dalam sebuah permainan yang bahkan belum ia mulai. Selesai berkenalan, mereka melanjutkan makan malam dengan berbagai hidangan yang seharusnya menggoyangkan lidah. Namun, bagi Kanika, tidak ada satu pun menu yang membuatnya tergugah. Rasa lapar yang tadi sempat menyergap seolah musnah, tergantikan oleh perasaan gugup yang hebat dan keinginan kuat untuk segera pulang. Susah payah Kanika mencoba terlihat tenang, tapi nyatanya ia makin gugup. Tubuhnya terasa lemas, bahkan bulu kuduknya merinding. Dia merasa harus segera pergi dari sana. Merasa tidak kuasa menahan lebih lama, Kanika meminta izin untuk pergi ke toilet. Zidan menatapnya tajam, tidak setuju, tapi Kanika tidak peduli. Dia setengah berlari meninggalkan kedua pria itu. Sesampainya di toilet, Kanika menghela napas panjang. “Ya Tuhan, bagaimana bisa? Kenapa mereka saling mengenal, dan Zidan justru terlihat sangat menghormatinya?“ Dia bicara pada dirinya sendiri, mencoba mencerna apa yang terjadi. Kanika butuh ketenangan dan tidak bisa segera keluar dalam waktu dekat. Dalam keadaan perut yang belum begitu terisi, Kanika mengeluarkan obat penenang yang biasa dia konsumsi. Saat ini, wanita itu seolah merasa benar-benar tidak bisa mengendalikan diri dan khawatir akan membuat Zidan malu. Sayangnya, meskipun sudah meminum obat, Kanika belum merasa tenang. Ia mondar-mandir di toilet, mencoba mengatur napasnya. Dia tidak sadar bahwa ia sudah cukup lama di sana, sampai ponselnya bergetar. Zidan mengirim pesan, dengan jelas memintanya kembali segera. Kanika tidak punya keberanian untuk membalas. “Sudahlah, Kanika. Mau tidak mau harus hadapi ... toh, sedari tadi orangnya diam saja. Kenapa takut sih?” Kanika bermonolog, berusaha menguatkan dirinya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk kembali. Langkahnya gemetar, seolah tidak menyentuh lantai. Tepat saat ia hendak keluar dari area toilet, seseorang menarik pergelangan tangannya dan membawanya ke tempat yang sedikit lebih sunyi. “Zidan, maaf ... aku benar-” Ucapan Kanika terhenti. Betapa terkejutnya ia saat menyadari pria yang menyeretnya bukan Zidan, melainkan Fabian. Tanpa terlihat tertekan, Fabian justru mengulas senyum dan melayangkan tatapan tak terbaca sembari berucap santai. “Kenapa begitu lama? Kamu berusaha menghindariku atau khawatir rahasia kita ketahuan calon suamimu, Kanika?” . . - To Be Continued -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD