BAB 09 - Go Public?

1936 Words
“Kenapa? Kaget?” Suara yang tak asing itu mengudara, membuat Kanika semakin terkejut. “Ya kagetlah! Ngapain pakai acara diam di situ? Apa salahnya ketuk pintu atau kabarin aku!” Kanika menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Dia menyadari dirinya terlalu terbawa suasana, padahal pria di hadapannya adalah Chiko, sahabat sekaligus kekasih Talia, teman satu profesinya. Chiko tersenyum tipis. “Sebenarnya mau aku antar tadi siang, tapi Talia bilang kamu butuh waktu sendiri. Kebetulan aku mau pulang, jadi sekalian mampir ke sini.” Pria itu menjelaskan sambil mengulurkan tas Kanika di tangan kanannya. Dengan agak lesu, Kanika mengambil tasnya dan segera memeriksa isinya, takut-takut ada yang hilang. Chiko yang melihat tingkahnya hanya terkekeh. “Aman, lagian apa yang perlu ditakutkan? Isi tas kamu cuma handphone sama dompet kosong itu doang.” “Ish, Chiko! Jujur banget kalau ngomong!” Kanika memanyunkan bibirnya, sedikit tidak terima dengan ucapan Chiko sekalipun memang fakta. Chiko tertawa pelan, kekesalan Kanika yang tak terima dengan fakta itu memang terlihat menggemaskan. “Bercanda … jangan dianggap serius.” Sebenarnya, Kanika sudah terbiasa mendengar candaan orang-orang yang menyangkut soal finansialnya. Karena itu, dia tidak berniat mengambil hati, ia berusaha terlihat santai, sebab saat ini masalah yang lebih besar justru sedang menimpanya. “Oh ya, anyway kamu mau ke mana? Rapi banget malam-malam begini?” tanya Chiko, melirik pakaian Kanika dari atas sampai bawah. “Makan,” jawab Kanika jujur, enggan berbohong. “Dari pagi belum makan, lambungku mulai nyut-nyutan.” “Kebiasaan.” Chiko menggelengkan kepala. “Setiap Zidan tinggal ke luar kota, pasti kamu begini. Sampai kapan, Kanika? Berkali-kali aku bilang, kalau cinta jangan keterlaluan. Belum tentu nikah juga, kan?” "Heh, ngaco! Kamu lupa kalau kami sudah tunangan, Chiko?" Ucapan Chiko entah mengapa membuat Kanika mendadak sensitif. Padahal, dalam pertemanan mereka, bukan hal aneh jika Chiko mengingatkannya. “Sekadar mengingatkan. Sebatas tunangan belum bisa dipastikan. Orang yang sudah di depan penghulu saja bisa tiba-tiba gagal menikah,” jawab Chiko tak melepaskan Kanika dari tatapannya, suara pria itu terdengar serius, seolah menyiratkan rasa kasihan di sana. “Iya itu orang. Bukan aku, kenapa sih?” Kanika mencebikkan bibirnya, tidak terima dengan fakta pahit yang Chiko katakan. Padahal, jika dipikir-pikir, ucapan Chiko memang ada benarnya. Hal itu bisa saja terjadi padanya. Terlebih lagi, saat ini Kanika menyadari dirinya telah ternoda. Bukan tidak mungkin nasibnya akan sama seperti wanita-wanita lain yang kehilangan kesempatan merasakan pernikahan impiannya hanya karena kenangan buruk. Tanpa mengetahui isi hati Kanika, Chiko tetap bersikap santai saja. Sampai akhirnya, ia bermaksud untuk pamit pulang karena memang sudah larut malam. “Eh, tapi bentar … kamu mau makan di luar, apa enggak sebaiknya delivery saja?” Chiko bertanya, alisnya bertaut. “Lagi pengen keluar, dah sana ah, jangan banyak tanya! Mau pulang kan?” Kekesalan perihal ucapan Chiko sebelumnya masih membekas, dan tak semudah itu bagi Kanika untuk melupakannya. “Malah ngusir. Nggak mau ditemenin?” Chiko menggodanya. “Aku bisa sendirian, nggak perlu diawasi. Lagian Talia pasti nunggu kabar kalau kamu sudah sampai ... sana pergi, jangan bikin aku emosi,” ucap Kanika terus memaksa Chiko agar segera pergi. Tidak ingin membuat amarah Kanika semakin memuncak, Chiko benar-benar berlalu. Meninggalkan Kanika yang masih berdiam diri di ambang pintu, menatap punggung Chiko yang menghilang di balik lift. Sebuah helaan napas panjang terdengar, Kanika terdiam beberapa saat, membiarkan pikirannya kembali tenang. Dia tidak ingin lagi membahas soal restu orang tua Zidan, atau kekhawatiran tentang pernikahan. Sekarang, yang ia butuhkan hanya makanan. Dia pun kembali masuk ke apartemen untuk meletakkan tasnya, lalu bergegas keluar menuju tujuannya. Sebuah restoran cepat saji yang tidak begitu jauh dari lingkungan tempat tinggal Kanika. Sesampainya di sana, Kanika segera memesan satu porsi nasi dengan ayam goreng dan minuman kesukaannya. Dia berharap cara ini akan sedikit menenangkan pikirannya, karena biasanya suasana hati Kanika terasa lebih baik hanya karena makanan. Namun, anehnya kali ini berbeda. Sepotong ayam goreng di hadapannya sama sekali tidak membuat Kanika bahagia. Dia mengunyah pelan, tanpa selera. Pikirannya masih terus tertuju pada pria yang tadi menghubunginya. “Fabian ... namanya familiar, tapi siapa, ya?” Kanika bermonolog, merasa nama itu tidak asing di telinganya. Akan tetapi, selang beberapa saat setelahnya, dia sendiri yang mematahkan dugaan tersebut. “Ah, tidak mungkin, pasti salah ingat lagi, kapan juga aku kenal sama yang namanya Fabian?” Kanika menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu. “Mungkin cuma kebetulan namanya sama.” Begitu pikir Kanika, dan dia memilih untuk kembali melanjutkan menikmati sesuap nasi hangat yang berpadu dengan ayam goreng favoritnya. Sayangnya, semua itu terasa hambar dan kurang rasa. Sangat berbeda dengan rasa yang biasa ia nikmati, terutama saat suasana hatinya sedang baik. Nafsu makannya hilang, digantikan oleh kegelisahan yang semakin menjadi-jadi. Selesai makan, Kanika tidak langsung pulang. Dia melanjutkan langkah tanpa arah, berjalan di trotoar yang sepi, menatap pantulan dirinya di dinding kaca sebuah bangunan. Wajahnya terlihat lelah, matanya berkaca-kaca, dan bayangan di pantulan itu tampak asing baginya. “Satu hal yang perlu kamu ketahui, dunia itu jahat sekali ... kamu tidak punya kewajiban untuk mempercayai semua orang, mengerti?” “Hem, mengerti, Ma.” Dalam diamnya, ingatan tentang interaksinya bersama sang bunda beberapa tahun lalu tiba-tiba terlintas. Ibunya, satu-satunya pelindung di dunia, kini sudah tiada. Kanika merasa sendirian. Hendak mengadu ke mana? Dia juga bingung. Wanita itu menelan ludah, menahan tangis yang mendesak keluar dari matanya. Sebelum kejadian semalam, Kanika berpikir bahwa hidupnya akan bahagia. Sekalipun sudah kehilangan ibunya, setidaknya ia memiliki Zidan. Pria yang datang dan siap menjadi penerang dalam hidupnya. Pria yang melimpahkan kasih sayang dan membuatnya merasa berharga sebagai seorang wanita. Sayangnya, harapan itu kini harus musnah. Dalam hati Kanika berpikir, mana mungkin Zidan yang berasal dari keluarga terhormat dipersilakan meminang wanita kotor sepertinya. Sewaktu ia masih menjadi gadis baik-baik saja, ia sudah dianggap hina, apalagi sekarang. Perlahan, Kanika menunduk. Dia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin berlian ketiga yang Zidan berikan, maknanya bukan hanya pemberian biasa, tetapi juga simbolis keseriusan. Air matanya perlahan menetes saat ia membayangkan kehidupan pernikahan impiannya akan gagal. “Ah, tidak-tidak.” Kanika menggeleng cepat, dia berusaha untuk menyerah dan mencoba meyakinkan diri, mencari secercah harapan di tengah kegelapan yang membelenggunya. “Zidan tidak sejahat itu … jika saja aku jujur, mungkin dia akan memaklumi, kan?" . . “Iya, tidak ada salahnya jujur!! Sedari dulu sudah sepakat untuk jujur tentang apa pun. Akan lebih berbahaya jika telanjur jauh dan Zidan merasa makin dibohongi nantinya.” Begitu tekad Kanika, setelah sempat dilanda dilema tadi malam. Ia berpikir untuk benar-benar mengatakan yang terjadi padanya agar kekecewaan Zidan tidak semakin besar. Namun, jelas dia tidak akan mengaku sekarang. Sebaliknya, Kanika hanya akan menunggu sampai Zidan pulang beberapa hari lagi, sebagaimana yang Zidan katakan. Sementara itu, Kanika memilih untuk menenangkan diri dengan melakukan hal-hal yang dia sukai. Uang hasil endorse yang baru saja ia terima kemarin sore adalah sasaran utama. Hari ini, ia akan mempercantik diri dan berbelanja pakaian atau mungkin tas jika memang harganya terjangkau. Tanpa mengajak teman-temannya, Kanika benar-benar menghabiskan waktu sendirian. Dia melangkah santai menyusuri pusat perbelanjaan di ibu kota, tenggelam dalam keramaian yang membuatnya merasa bukan siapa-siapa. Tak lupa, Kanika mengenakan masker demi menutupi wajahnya agar tidak terlihat oleh orang-orang yang mungkin saja akan mengenalnya. Cara itu cukup berhasil membuat Kanika sedikit lebih tenang. Kanika bisa menyusuri setiap toko tanpa rasa cemas, menikmati setiap pilihan yang ada. Namun, ketenangan itu seketika sirna. Jiwa Kanika terguncang saat ia melewati store yang menjual berbagai peralatan bayi. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya seketika panas dingin. Meskipun ia sudah meyakinkan diri bahwa dirinya tidak akan hamil akibat kecelakaan kemarin malam, ia tetap merasa canggung dan ketakutan. Cepat-cepat ia menjauh dan pergi dari tempat itu. Jantung Kanika berdegup kian kencang, seolah akan melompat keluar. Dia mencoba menenangkan dirinya, suaranya berbisik di dalam hati. “Tidak, Kanika, tidak! Hubungan seks tidak selalu menghasilkan anak. Ada banyak contohnya. Jadi, kenapa harus khawatir? Bukankah kamu juga sudah mengonsumsi pil KB darurat? Tenanglah, kamu tidak akan hamil, aku jamin itu!” Sekuat hati Kanika meyakinkan dirinya, tetapi tepat pada saat itu, ponselnya kembali berdering. Layar menampilkan nomor baru yang tidak dia kenal. Tanpa berniat menerima, Kanika langsung menolak panggilan tersebut. Dia bisa menebak itu dari siapa. Kemungkinan besar masih orang yang sama dengan sebelumnya. Fabian atau Mohan, dua nama itu cukup membekas di benak Kanika karena terus-menerus mengusik ketenangannya. Keramaian di pusat perbelanjaan yang biasanya ia sukai kini terasa menyiksa, dan sukses membuat Kanika sakit kepala. Karena itu, dia bergegas angkat kaki dan meninggalkan tempat itu. Dengan taksi yang ia tumpangi, Kanika hanya butuh waktu beberapa menit. Sengaja ia meminta sopir untuk lebih cepat dengan alasan ada urusan mendadak. Tak ubahnya seperti dikejar setan, Kanika mempercepat langkahnya, padahal orang yang berusaha mengusiknya tidak terlihat sama sekali. Begitu berhasil masuk ke unit apartemen, jantung Kanika kembali dibuat berdegup tak karuan. Ponselnya kembali berdering untuk kesekian kalinya. “Ya Tuhan, apalagi? Mereka tidak ada lelahnya mengejarku, kah?” Kanika merasa marah. Karena sudah terbiasa diteror nomor baru itu, doa justru tidak lagi melihat nama peneleponnya dan langsung mengangkatnya, bersiap melontarkan kekesalan. “Woey!! Bisa berhenti menghubungi saya? Saya tidak pu-” “Kanika? Kamu kenapa?” Suara yang terdengar begitu familiar di seberang sana cukup untuk membuatnya menghentikan ucapan. “Heh?” Kening Kanika berkerut seketika. “Zi-Zidan?” “Iya, ini aku. Ada apa denganmu?” Kanika sontak gelagapan, dia bingung harus menjawab apa dalam situasi seperti ini. “Ehm, ti-tidak, tadi aku pikir penipuan lagi. Soalnya, sejak kemarin ada banyak nomor asing yang menghubungiku.” Terdengar helaan napas panjang di seberang sana, kemungkinan Zidan agak enggan menanggapi keluhannya. “Ehm, iya, kamu ada waktu luang nanti malam?” “Nanti malam?” Kanika bertanya, suaranya dipenuhi keheranan. “Iya, ada, kan?” “Ada. Memangnya kenapa?” Kanika mengira Zidan hanya butuh waktu berdua untuk bicara via telepon. “Bagus. Siapkan dirimu, pakai gaun terbaik. Aku jemput jam 7 malam.” “Hah? Kamu sudah pulang sekarang?” Kanika terlonjak, kabar ini cukup mengejutkan dirinya. Jantungnya makin berdegup tak karuan. Jika Zidan sudah pulang, ini berarti saatnya ia harus mengakui apa yang telah ia perbuat di belakang pria itu. “Iya, aku sudah pulang.” Tidak banyak bicara, Kanika hanya mengangguk pelan dan segera mengalihkan pembicaraan. “Kalau begitu, kenapa mau jemput jam 7? Kamu mau ajak aku makan malam?” “Bukan.” Jantung Kanika berdenyut. Ia merasa situasi ini terasa berbeda. “La-lalu apa, Zidan?” “Aku berpikir untuk membawa kamu makan malam bersama rekan bisnis Papa yang akan menjadi rekan bisnisku ke depannya.” “Hah? Se-serius?” Ajakan Zidan terlalu mengejutkan. Selama ini, hubungan mereka seperti rahasia, hanya orang-orang terdekat saja yang tahu. “Tentu saja, mana mungkin aku bercanda.” Zidan tertawa kecil di seberang telepon. Tawa yang justru membuat Kanika merasa serba salah. “Aku rasa, sudah waktunya kita membuka hubungan kita di depan umum, Kanika. Toh, tidak lama lagi kita akan menikah, jadi tidak ada salahnya sebagai upaya menjaga batasan agar wanita di luar sana berhenti mengungkapkan cinta dan semacamnya." Deg …. Penjelasan Zidan sejenak membuatnya terenyuh. Lagi dan lagi, ia merasa beruntung. Namun, ia juga bingung mengingat keadaan yang terjadi saat ini. Sebagaimana yang sempat ia rencanakan, Kanika ingin jujur pada Zidan. Namun, detik ini, bibirnya seolah terkunci dan makin tidak siap jika harus terpisah dari pria itu. “Ah, iya ... go public maksudnya?” “Iyes, itu dia,” sahut Zidan lagi dan kembali menyiratkan senyum getir di wajah wanita itu. “Bi-bisa, Zidan, aku bisa.” “Okay, tapi pastikan dirimu tidak membuatku malu, karena yang aku hadapi nanti malam bukan orang biasa. Paham, Kanika?” . . - To Be Continued -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD