BAB 08 - Bukan Begadang Biasa

1907 Words
Sekhawatir itu Fabian bahwa tindakannya telah berakibat fatal, menghancurkan masa depan orang lain. Padahal, jika dipikir-pikir, ia tidak salah. Justru Kanika sendiri yang bunuh diri dengan memasuki kamar pria yang salah. Anehnya, mau diputar bagaimanapun ceritanya, Fabian tetap merasa bersalah dan tidak bisa berlagak buta. Hati nuraninya terusik. Pria itu kembali ke aplikasi pesan, mencoba memastikan barangkali ada balasan. Namun, sama seperti sebelumnya, tidak ada balasan. Fabian memperbaiki posisi duduk, tak terhitung sudah berapa kali ia mengubah posisi dan kini ia kembali memastikan, sebab pikirannya sedang tenang-tenangnya. “Tapi sudah dibaca? Apa mungkin belum, ya?” gumam pria itu pelan, matanya tak lepas dari layar. Dia tetap sabar menunggu, satu menit, dua menit, tiga menit. Namun, tetap tidak ada balasan. Fabian berdecak, kesal. Agaknya ia salah. Pesan itu kemungkinan besar sudah dibaca, sejak dia menggulir laman media sosial Kanika. Mulai kesal karena diacuhkan, Fabian kembali mengirimkan pesan lainnya, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Harapannya, pemilik nomor itu akhirnya bersedia membalas pesannya. || Bagaimana? Bisa 'kan? Mohon balas pesanku dalam waktu 24 jam.... seperti yang kukatakan di awal, aku tidak punya maksud buruk, paham? Tidak lagi dengan kelembutan, kali ini Fabian mulai melibatkan emosi karena ia sudah tidak bisa menahan kekesalan. Pria itu menarik napas panjang, sebelum kemudian menekan tombol kirim. Sialnya, begitu ia kirim, pesan itu berubah menjadi centang satu. “Heh?” Mata Fabian memicing, dahinya mengerut, jelas dia bingung. “Centang satu? Dan foto profilnya menghilang ... Dia memblokir nomorku? Hah?” Setengah tak percaya, Fabian sampai menganga saat menyadari Kanika tidak hanya tidak membalas, melainkan justru memblokir nomor ponselnya. Seketika itu juga, dia merasa wibawanya sebagai pria hancur berantakan. Setelah dicampakkan istri beberapa waktu lalu hanya karena dianggap bukan seleranya, kini seorang gadis yang begitu Fabian pikirkan nasibnya, justru tak bersedia menanggapinya, apalagi menerima tanggung jawab darinya. “Benar-benar menyebalkan. Aku kurang apa sampai yang sudah dijamah saja menolak ketulusanku sebagai pria? Hah?!” teriaknya frustrasi. Dia bahkan lupa fakta bahwa Kanika adalah calon istri orang. Fabian benar-benar tidak bisa berpikir jernih lantaran harga dirinya tersinggung. Pria itu mengepalkan tangan, menatap sebal riwayat percakapan bersama Kanika itu sebelum kemudian melemparkan ponselnya ke sembarang arah. “Okay, Fine!! Terserah! Sepertinya benar kata Mohan ... Hal semacam ini kemungkinan settingan dan ada baiknya aku abaikan saja. Bikin pusing!” Fabian menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa, mencoba menenangkan diri. Namun, amarah dan rasa malu masih membara di dadanya. Seolah-olah, ia telah kalah dalam sebuah permainan yang bahkan tidak ia mulai. Tanpa Fabian ketahui, di sisi lain dan di luar jangkauannya, seorang gadis yang pada akhirnya ia kira benar-benar tengah merencanakan sesuatu padanya, justru tengah berdegup tak karuan dan terus memandangi pesan darinya. “Minta ketemu ... kira-kira mau bicara apa? Apa dia akan meminta bayaran atas apa yang terjadi semalam?” Sama seperti Mohan, Kanika juga berprasangka buruk saat mendapati pesan singkat dari nomor pribadi Fabian. Ketakutannya semakin diperkuat dengan panggilan dari Mohan sebelumnya yang tiba-tiba meminta alamat. Dalam situasi kacau seperti ini, Kanika tidak bisa berpikir jernih. Semua alarm bahaya di otaknya berbunyi, memperingatkan bahwa Fabian memiliki maksud buruk. Meskipun dalam pesan itu tertulis bahwa niatnya baik, Kanika tidak bisa mengabaikan trauma masa lalu. Dua bulan lalu, ia pernah diperas oleh orang asing hingga puluhan juta hanya karena terlena dengan penipu yang pandai bicara dan memanipulasi keadaan. Pengalaman pahit itu meninggalkan luka mendalam dan rasa takut yang sulit dihilangkan. Karena itulah, Kanika memutuskan untuk menolak panggilan dari nomor tak dikenal, setelah sebelumnya memblokir nomor Mohan. Dan, ia melakukan hal yang sama pada nomor Fabian. Drrt Drrt Drrrt Belum selesai kegugupannya, ponsel Kanika kembali bergetar. Muak dengan rentetan panggilan dari orang asing, ia nyaris melemparkan ponselnya. “Eh-eh-eh!” Kanika panik. Matanya membulat sempurna saat melihat nama yang tertera di layar. Zidan ~ Nyaris saja Kanika membuat kesalahan besar. Setelah melihat nama kekasihnya, ia segera menarik napas dalam dan menerima panggilan tersebut. “Halo, Zidan?” Suara Kanika terdengar bergetar. “Hai, Sayang. Maaf baru sempat telepon. Kamu kenapa? Aku benar-benar sibuk, baru sempat telepon sekarang,” jawab Zidan dari seberang, suaranya terdengar lelah namun lembut. Sibuk dan baru sempat telepon. Sebuah alasan klise yang alurnya sudah dihafal Kanika di luar kepala. Namun, ia tidak berniat memperpanjang masalah itu. Dengan napas panjang, ia berusaha menenangkan diri. “Tidak masalah, maaf sudah mengganggu. Tadi aku cuma memastikan.” “Memastikan? Memastikan apa?” Kanika bingung. Pikirannya sudah terpecah sejak telepon dari Fabian dan Mohan datang. Dia tak sadar ke mana arah pembicaraannya. “Ah? Memastikan ... itu. Kamu di sana gimana? Sehat, 'kan?” Dia bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ha-ha-ha, pertanyaannya masih sama seperti kemarin-kemarin. Kamu sekhawatir itu sama aku, Kanika?” Zidan tertawa ringan. Senyum hangat sejenak terbit di wajah Kanika. Namun, hanya sebentar saja. “Iya, aku memang selalu khawatir padamu sejak dulu,” jawab Kanika jujur, walau ada sedikit kepalsuan yang ia rasakan. “Bisa saja. Jadi nggak sabar pengen ketemu,” balas Zidan kemudian, berusaha mengimbangi ucapan manis yang terlontar dari bibir Kanika. Tak segera menjawab, Kanika hanya menunduk. Rasa bersalah menghimpit dadanya. Dia ingin jujur, tetapi tidak sanggup. Ketakutan itu terlalu besar. “Em, iya. Kira-kira kapan pulang?” “Kurang tahu. Mungkin tiga atau empat hari lagi,” jawab Zidan kemudian. Biasanya, mendengar kabar bahwa calon suaminya akan pulang dalam waktu dekat, Kanika akan antusias dan penuh semangat. Namun, kali ini berbeda. “Baiklah, hati-hati. Jaga kesehatan di sana.” Dia berujar dengan suara yang lebih pelan. “Kamu kenapa? Suaramu terdengar berbeda. Habis nangis, ya?’ Zidan menerka. Mata Kanika sontak membulat sempurna. Jika Zidan sampai tahu bahwa telah terjadi sesuatu pada dirinya, besar kemungkinan ia akan dibuang begitu saja. Kanika bisa membayangkan respons keluarga Zidan yang sudah sejak lama tidak merestui hubungan mereka. Mereka pasti akan semakin gencar memaksanya melepaskan Zidan, menganggap dirinya semakin tidak pantas dan sampah tanpa harga. “Ah, tidak. A-aku cuma kurang enak badan, Zidan,” jawab Kanika, berusaha menutupi kebenaran. Dia belum siap untuk jujur tentang penyebab suaranya yang berubah. “Kurang enak badan kenapa? Pasti kamu begadang lagi, ya?” terka Zidan, membuat jantung Kanika berdegup kian kencang, seolah akan keluar dari dadanya. “Past i... pasti begadang lagi, kan?” . . “I-iya, Zidan, aku begadang lagi,” jawab Kanika, suaranya pelan dan ragu. Dia menunduk, memejamkan mata, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan. Tentu saja dia tidak berbohong. Memang benar semalam ia begadang. Kanika tidak ingat jam berapa ia akhirnya tertidur, tetapi yang pasti sudah lewat tengah malam. Wajar saja tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena begadang, melainkan juga karena pergulatan di atas tempat tidur bersama seorang pria yang juga sama laparnya. Namun, lagi dan lagi, ia tidak akan jujur soal itu. Cukup Zidan sekadar tahu bahwa ia begadang, itu saja “Kebiasaan,” tegur Zidan, suaranya berubah lembut, penuh perhatian. “Jangan diulang lagi. Jaga pola hidupmu, jangan terlalu keras dalam bekerja, dan fokus saja sama kesehatanmu, Kanika.” Suara Zidan yang lembut membuat Kanika makin terlena dan merasa bersalah. Nasihat itu terasa seperti belaian yang menenangkan, namun di saat yang sama, juga menyudutkannya dalam kebohongan. “Satu lagi, ini mohon diingat dan aku ingin katakan padamu,” tambah Zidan terdengar cukup serius. “Kurang-kurangi, atau kalau bisa berhenti saja live streaming. Kamu tahu sendiri kalau mamaku tidak suka, kan? Jangan membuatnya makin marah, Sayang. Bukankah kamu sendiri yang bilang ingin diterima Mama nantinya?” Kali ini pertanyaan Zidan lebih panjang dan lebih dalam. Namun, Kanika tidak punya tenaga untuk membahas itu. Saat ini, perkara restu mama Zidan terasa tak seberapa dibandingkan masalah yang jauh lebih besar. Masalah itu bisa jadi bukan hanya membuat mama Zidan tidak bersedia menerimanya, melainkan juga Zidan sendiri. Kanika terdiam, dia memegang ponselnya erat, merasa dadanya sesak. Niatnya untuk jujur terkubur dalam-dalam oleh rasa takut. Dia takut dibuang, takut disalahkan, takut dihakimi. Dan kali ini, ketakutan itu bukan hanya datang dari calon ibu mertuanya, tetapi juga dari pria yang sangat dicintainya. ​”Soal itu, ak-” ​”Ah, sudah dulu, ya. Nanti malam aku telepon lagi ... Bye, Sayang." ​Belum sempat Kanika menyelesaikan kalimatnya, Zidan tiba-tiba mengakhiri panggilan telepon. Sambungan terputus tanpa Kanika sempat membalas salam penutupnya. ​Kanika mengerjap pelan, perlahan menurunkan ponselnya. Matanya menatap nanar ke depan, tanpa arah. Selepas bicara dengan Zidan, perasaannya justru semakin kacau. Nasihat dan teguran Zidan tadi terasa seperti pisau tajam yang menusuk ke dalam hati. Di satu sisi, ia merasa dicintai. Di sisi lain, ia semakin merasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran. ​Lama terdiam, Kanika akhirnya memilih untuk tidur. Dia butuh istirahat, bukan hanya untuk tubuhnya yang lelah, tetapi juga untuk pikirannya yang runyam. Memejamkan mata, ia berharap bisa sejenak melupakan semua masalah. Jujur saja, dia hanya ingin melepaskan diri dari segala ketakutan yang menghantuinya. Dan, sesuai rencananya, Kanika benar-benar tertidur untuk waktu yang lama. Pemilik wajah cantik itu tertidur begitu pulas, seolah melarikan diri dari kenyataan yang ada. Dalam tidurnya, ia mencari perlindungan dari segala kekhawatiran dan rasa bersalah yang membebani. Bahkan, ketika ia terjaga, ia menyadari bahwa hari sudah berganti. Matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan diri dengan kegelapan. Gorden di jendela kamarnya tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari. Yang terlihat hanyalah cahaya remang. Kanika mengangkat kepala, bingung. Pemandangan di luar sudah gelap, langit malam sudah mengambil alih. Dia menarik napas, menyadari betapa lamanya ia tidur. Perutnya berteriak, sebuah isyarat yang membawanya kembali ke dunia nyata. Rasa lapar yang menusuk memaksanya bangkit. Kanika meraih ponselnya. Layarnya menyala, menunjukkan tanggal yang berbeda dan jam yang sudah menunjukkan larut malam. Dia sudah tertidur lebih dari dua puluh empat jam. Kanika menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat dan bengkak. Rambutnya acak-acakan. Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja mengalami badai. Namun, setidaknya, kepalanya terasa lebih jernih. Untuk beberapa saat, ia berhasil melupakan Zidan, Fabian, dan semua kekacauan yang terjadi. Dengan langkah gontai, Kanika menuju dapur. Perutnya benar-benar tak bisa menunggu lebih lama. Akan tetapi, Kanika yang pelupa benar-benar tidak menguntungkan. Begitu tiba di dapur dan membuka lemari pendingin, dia tidak lagi melihat bahan makanan di sana. Hanya ada roti tawar, dan itupun sudah l kedaluwarsa kemarin, sungguh lengkap sekali penderitaan Kanika malam ini. Tak heran sebenarnya kenapa calon ibu mertuanya tidak sudi memberikan restu sekalipun Zidan tampak cinta mati. Melihat kebiasaan Kanika sekarang saja, sudah jelas ia bukan sosok yang teratur dan rapi sesuai keinginan Mama Zidan. “Habis ... ada-ada saja sih? Kenapa juga harus habis sekarang? Belum juga separuh aku makan?” Kanika menguap lebar, perutnya makin tak bisa diajak kerja sama. Dia bermaksud memesan makanan secara daring, tetapi sialnya, aplikasi itu mendadak eror dan sulit dibuka. Merasa tidak lagi kuasa menahan rasa laparnya lebih lama, Kanika bermaksud turun dan makan di luar. Kebetulan di sekitar apartemennya cukup banyak restoran yang menyediakan makanan cepat saji. Segera Kanika bersiap. Malam ini ia akan makan di luar sekaligus mencari udara segar. Dia berharap udara malam bisa membuatnya lebih tenang. Dengan pakaian pilihan yang cukup rapi, Kanika sudah sangat siap untuk pergi. Meskipun tidak mandi sore ini, dia tetap terlihat menawan karena tidak ingin ada paparazi yang mengabadikan kebulukannya pada khalayak ramai. Dia melangkah panjang, mantap, meski sensasi perih akibat hubungan badan semalam masih terasa. Tak disangka, begitu membuka pintu, Kanika terkejut. Seorang pria bertopi berdiri di sebelah pintu apartemennya, bersandar ke tembok, seolah sudah menunggu sejak lama. Belum selesai keterkejutan Kanika, ia seketika mundur begitu pria itu mengangkat wajahnya. Cukup membuat Kanika bisa melihat dengan jelas pemilik wajah tampan itu. “Ya, Tuhan ... kamu?” . . - To Be Continued -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD