BAB 07 - Calon Istri Orang?

1715 Words
“Halo? Nona? Bisa dengar saya?” Di ujung telepon, Mohan menajamkan pendengarannya. Dia menunggu respons dari Kanika, berharap setidaknya wanita itu akan memberikan petunjuk alamat. Namun, yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Tidak ada lagi suara lembut Kanika yang tadi terdengar gugup. Panggilan itu benar-benar terputus. “Tidak ada jawaban, Pak. Sepertinya wanita itu belum sempat menyiapkan jawaban andai kita hubungi," lapor Mohan, wajahnya menunjukkan kelegaan yang samar. Fabian yang sedari tadi menunggu dengan gelisah di seberang meja, tampak tak puas. Rasa frustrasi menyelimuti dirinya. “Coba sekali lagi. Mungkin sinyalnya buruk, Mohan,” perintahnya kemudian, suara Fabian dipenuhi ketegasan. “Kau terlalu cepat menyerah. Kita harus dapatkan alamatnya.” Sesuai perintah, Mohan kembali menghubungi nomor Kanika yang ia dapatkan dari bio i********: wanita itu. Mohan tidak terlalu terkejut melihat Kanika mencantumkan nomor pribadi. Melihat jumlah pengikutnya yang tak seberapa, ia yakin Kanika belum mampu membayar seorang manajer. Namun, usahanya sia-sia. “Nomornya sudah tidak aktif lagi, Pak,” lapor Mohan setelah beberapa kali mencoba. “Saya yakin dia memang sengaja mematikan ponselnya.” Ucapan Fabian kali ini sontak menghela napas panjang. Awalnya ia merasa sedikit tenang setelah Mohan menemukan profil Kanika dan tahu bahwa wanita itu hanya seorang influencer kurang terkenal. Setidaknya, itu berarti Kanika bukan orang yang benar-benar asing dan tak terlacak. Namun, sikap Kanika yang tiba-tiba menghilang justru kembali memantik kecurigaannya. Terlebih lagi, Mohan tak henti-hentinya menjadi 'racun' di telinganya. “Lalu aku harus bagaimana, Mohan? Apa tidak sebaiknya aku hubungi pakai nomor pribadiku saja?” tanya Fabian, matanya menunjukkan kebimbangan. “Jangan!” jawab Mohan cepat, hampir membentak. Rencana Fabian terlalu berisiko. “Jangan coba-coba, Pak! Anda tidak tahu sekarang zamannya w************n yang sengaja mencari celah untuk meminta pertanggungjawaban dan memeras pria kaya?” Mulai, kembali Mohan melontarkan tuduhan tak berdasar kepada Kanika. Fabian yang mendengarnya hanya bisa memijat pelipisnya. Masalah ini benar-benar membuat kepalanya sakit. “Begitu ya?” gumam pria itu pelan, suaranya terdengar lelah. “Iya, Pak! Apalagi melihat statusnya sebagai influencer yang butuh sensasi, saya khawatir jika Anda sampai menghubunginya, pesan itu akan dijadikan bukti. Lalu, ia bisa saja mengunggahnya ke media sosial dan merusak citra Anda sebagai konglomerat ternama yang namanya selama ini baik di mata publik,” jelas Mohan panjang lebar. Tak segera menjawab, Fabian menatap asistennya lekat-lekat. “Tunggu dulu, bagaimana bisa kau punya pemikiran seperti itu? Coba jelaskan padaku dengan logis.” Pertanyaan Fabian membuat Mohan memutar bola matanya malas. Entah bosnya berpura-pura bodoh atau memang instingnya tidak berfungsi sama sekali. “Begini, Bos ….” Dia menghela napas, berusaha tetap tenang. “Saya di sini sebagai asisten yang baik dan menyayangi, eh, maksud saya menghormati Anda," Mohan meralat kata-katanya lantaran khawatir pernyataan sayang itu membuat Fabian geli. “Saya hanya takut kasus ini sebenarnya sudah direncanakan. Seseorang mungkin sedang menyusun rencana untuk mengambil keuntungan dari Anda.” “Secara logika, coba Anda pikirkan baik-baik. Bagaimana bisa seorang gadis tiba-tiba masuk ke kamar Anda dan menyerahkan diri begitu saja? Di sisi lain, Anda memang sudah memesan wanita panggilan. Bukankah ini terlalu kebetulan?” Mohan mencoba meyakinkan Fabian bahwa semua ini sudah diatur. Menurutnya, Fabian tidak perlu terlalu memikirkannya dan cukup menganggap kejadian itu tidak pernah ada. Mohan sama sekali tidak sependapat dengan Fabian yang meyakini bahwa Kanika hanya salah kamar karena ceroboh dan tidak sengaja. Bagi Mohan, kejadian semalam sudah disetting dan disengaja. Fabian adalah target empuk bagi kaum hawa yang malas bekerja tapi ingin cepat kaya. “Ah, aku tidak bisa berpikir,” seru Fabian, kekeraskepalaannya muncul. “Cepat cari saja gadis itu, Mohan. Apa susahnya?” tanya Fabian seolah mencari celah dan bingung kenapa pendirian Mohan sekeras itu tentang hal ini. Mohan tak menyerah, dia tahu Fabian menolak untuk menerima kenyataan. Asisten satu itu mengerti bahwa bosnya tak ingin kalah dalam kasus semacam ini, terutama setelah apa yang baru saja ia alami. “Bos, ini adalah kali terakhir saya mengingatkan.” Mohan menatap Fabian dengan serius. “Saat ini, Anda baru saja diceraikan oleh Nona Sadira, dan kabar perceraian kalian sudah tersebar di berbagai media. Dalam kasus itu kita berhasil menjaga nama baik Anda. Tidak ada yang tahu identitas Nona Sadira, kan?” “Lalu? Apa hubungannya dengan wanita tidak punya harga diri itu?” Fabian sama sekali tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Mohan. “Maksud saya, jangan sampai Anda terseret ke kasus lain yang jauh lebih memalukan dari perceraian Anda kemarin!” Mohan berusaha keras membuka mata Fabian. Dia berharap bosnya bisa mengerti situasi yang tengah terjadi. Namun, Fabian menolak untuk paham. Tanpa basa-basi, ia meraih ponsel Mohan dan dengan cepat menyalin nomor Kanika. “Kau bebas dengan prasangkamu,” kata Fabian, matanya menatap lurus. “Tapi aku tetap dengan pendirianku.” “Apa?” Mohan setengah tak percaya, mulutnya sampai ternganga. Fabian mengembalikan ponselnya dengan raut wajah yang sama sekali tak bersahabat. “Lupakan soal ini, biar aku yang mencarinya sendiri.” . . Merasa Mohan terlalu banyak bicara dan hanya akan mempersulit langkahnya, Fabian memutuskan untuk mengambil alih. Dia tidak butuh nasihat yang justru membuatnya ragu. Setelah mendapatkan nomor ponsel Kanika, dia bergegas pulang. Baginya, berbicara tentang masalah serumit ini butuh ketenangan, dan hanya rumahnya yang bisa memberikan itu. Tiga belas menit kemudian, mobilnya memasuki pekarangan sebuah rumah mewah di pusat kota. Rumah itu baru saja dia beli beberapa bulan lalu, sebuah hadiah ulang tahun pernikahan yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan. Ironisnya, rumah ini nyaris jatuh ke tangan Sadira dan selingkuhannya. Fabian bersyukur, kecerdikannya dalam mengelola aset memastikan perceraian itu tidak merugikannya secara materi. Hanya saja, rasa malu karena dibuang begitu saja masih membekas. Apalagi Sadira, mantan istrinya, seolah tidak merasa bersalah sama sekali dan sudah bebas umbar kemesraan sana-sini. Fabian masuk ke dalam rumah. Sunyi. Kosong. Bahkan, tanpa berniat untuk minum atau mencari pelarian apa pun, ia langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Ditemani keheningan, ia membuka ponselnya dan menatap nomor Kanika yang sudah ia salin dari ponsel Mohan. Dengan napas tertahan, Fabian menekan tombol panggil. Panggilan pertama …. Ponselnya berdering, tetapi tak ada jawaban. Fabian menelan kekecewaannya. “Mungkin dia sedang sibuk,” pikirnya, mencoba memaklumi. Dia menunggu sebentar, lalu mencoba lagi. “Hmm?” Fabian mengerutkan kening. Panggilan itu tidak masuk, seolah nomor Kanika tidak aktif. Dia mencoba lagi dan lagi. Satu kali, dua kali, tiga kali. Berkali-kali, hingga di percobaan ke-13, ia akhirnya menyerah. Gadis itu sepertinya benar-benar tidak ingin dihubungi. Sontak Fabian melempar ponselnya ke sofa di sebelahnya. “Mungkin dia tipe introvert yang tidak suka ditelpon,” gumamnya, mencari pembenaran. “Tidak apa-apa, aku masih bisa mengirimkan pesan.” Pria itu meraih kembali ponselnya. Ide lain muncul. Tentu saja, dia punya cara lain untuk menghubungi Kanika, pesan teks. Tanpa ragu, Fabian mengetikkan pesannya. Dia memilih kata-kata yang singkat namun jelas, mengungkapkan niat seriusnya untuk membahas apa yang terjadi di antara mereka. || Hai, Kanika … salam kenal, aku Fabian. Laki-laki yang semalam bersamamu. Aku tidak bermaksud jahat. Aku harap kita bisa bertemu dan bicara empat mata. Pesan itu terkirim, dan Fabian mencoba untuk sabar menunggu. Jarinya mengetuk-ngetuk paha, sebuah kebiasaan yang muncul saat dia gelisah. Dia terus menunggu satu menit, lalu dua, lima, dan sepuluh menit sudah berlalu. Namun, tak ada balasan. Pesan itu bahkan tak kunjung terbaca. Padahal, Fabian bisa melihat status Kanika yang masih aktif. Rasa frustrasi Fabian kembali memuncak. Dia tidak mengerti mengapa wanita ini bersikap seolah ingin menghilang. Padahal, dia juga sudah berusaha dengan cara yang paling sopan, tetapi Kanika seolah sengaja menutup diri dari setiap usahanya. Yang Fabian rasakan kini bukan hanya keinginan untuk bertanggung jawab, tetapi juga sebuah tantangan. Siapa sebenarnya Kanika ini, dan mengapa ia begitu menolak untuk berbicara dengannya? Merasa kesal karena pesannya tak kunjung dibalas, Fabian memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang Kanika. Ponselnya kembali menyala, dan jemarinya lincah membuka akun Insta-gram Kanika_Zahira. Akun dengan 25 ribu pengikut itu tampak penuh warna dan rapi. Seluruh isi feed-nya didedikasikan untuk konsumsi publik. Tadi, Mohan sempat memperlihatkannya sekilas, namun Fabian tidak terlalu memperhatikan. Kini, ia punya waktu luang untuk memastikan setiap detail. Tak ubahnya bak influencer pada umumnya, Kanika banyak membagikan momen dari kehidupannya, entah itu saat mengiklankan produk, mempromosikan destinasi wisata, atau sekadar foto selfie biasa. Fabian mengamati setiap foto dengan saksama. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat wajah Kanika yang terbingkai sempurna di layar ponselnya. Dia menyimpulkan satu hal: gadis itu sungguh cantik. Wajahnya tampak terpahat alami, tanpa sentuhan operasi yang sering ia temui pada wanita lain. Matanya yang indah, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang merekah. Kecantikan Kanika berbeda, autentik, dan entah mengapa, membuat Fabian terpana. Tanpa sadar, senyum pria itu melebar, sampai akhirnya mendadak pudar saat ia melihat sebuah unggahan. Sebuah foto tangan, yang menampilkan cincin di jari manisnya, lengkap dengan caption yang ditulis dengan penuh semangat, “I said yes!!” “Apa?” Kening Fabian berkerut seketika. Ingatannya kembali ke malam itu. Ia mencoba mengingat-ingat. Di jari manis Kanika memang ada cincin. Namun, saat itu Fabian terlalu mabuk untuk mempedulikannya. “Jadi ... itu cincin tunangan? Atau bahkan pernikahan?” Hanya karena satu foto, tapi Fabian dibuat terlonjak dari sofa. Situasi yang awalnya ia anggap sederhana, kini berubah menjadi tegang. Dengan napas tertahan, ia kembali menggulir feed i********: Kanika, mencari unggahan yang berhubungan dengan pernikahan. Dia melihatnya dengan teliti, pelan-pelan, sampai kembali ke unggahan paling awal. Tidak ada foto pernikahan. Tidak ada foto pasangannya. Tidak ada unggahan yang menunjukkan Kanika sedang menikah. “Belum ada,” gumamnya pada diri sendiri. “Kemungkinan besar itu hanya cincin tunangan.” Fabian menarik napas lega, meskipun kecemasan lain segera menggantikannya. Pikirannya melayang, menghubungkan setiap kejadian yang ada. “Ah, begitu.” bergumam lagi, sebuah realisasi tiba-tiba terbesit di benaknya. “Apa mungkin ini alasannya menolak dihubungi? Dia calon istri orang? Dan jika itu benar, itu artinya aku telah menjadi penyebab hancurnya hubungan seseorang, bukan?” Alih-alih lega, begitu mengetahui bahwa gadis yang dia yakini tak berdosa bernama Kanika itu sudah bertunangan, rasa bersalah yang tadi sempat ia tolak kini menyelimuti dirinya. Fabian menatap ponselnya, yang menampilkan foto Kanika dengan senyum ceria, dan perasaan bersalah itu semakin dalam. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertanggung jawab, tetapi sekarang ia menyadari bahwa tindakannya bisa saja menghancurkan masa depan orang lain. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana jika gadis itu dicampakkan oleh pasangannya di malam pertama karena sudah terjamah?” . . - To Be Continued -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD