BAB 37 - Best Papa ~

1286 Words

“Ya Tuhan kenapa selama ini?” Fabian terus menunggu dengan gelisah di luar UGD. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Pikirannya melayang, membayangkan berbagai skenario terburuk. Dia mengutuk dirinya sendiri berulang kali, menyalahkan keegoisan yang telah membuat Kanika dalam bahaya. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. ​“Kanika, nanti kamu boleh membalas dan yang jelas, kamu harus bertahan … ya,” bisiknya pelan sembari menatap pintu putih di depannya seolah bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Pria itu bangkit, mondar-mandir di koridor, lalu duduk kembali, tak mampu menahan kegelisahan yang menggerogoti. Rasa bersalah menghimpitnya, mengingat ekspresi marah Kanika sebelum pingsan. Fabian mengepalkan tangan, berjanji pada dirinya sendiri akan memperbaiki se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD