bc

Istri Pengganti CEO: Dendam Di Balik Wajah Kembaranku

book_age18+
349
FOLLOW
1K
READ
revenge
family
HE
boss
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
kicking
brilliant
city
like
intro-logo
Blurb

Farah menyamar sebagai mendiang saudari kembarnya, Sarah, setelah mengetahui bahwa kematian Sarah bukan kecelakaan biasa. Dengan identitas baru itu, Farah masuk ke kehidupan Sebastian, suami Sarah, dengan keyakinan bahwa pria itulah yang bertanggung jawab. Namun semakin dalam ia menggali, semakin banyak rahasia berbahaya yang terkuak. Antara kebenaran yang samar, ancaman yang mengintai, dan perasaan yang tak seharusnya muncul, Farah terjebak dalam permainan yang jauh lebih gelap dari dugaan awalnya.Mampukah ia menemukan pelaku sebenarnya sebelum penyamarannya terbongkar?

chap-preview
Free preview
Bab 1
“Maafkan aku. Ini semua salahku.” Suara itu terdengar lirih, sarat penyesalan. Namun keheningan setelahnya justru terasa lebih menekan daripada teriakan. “Kata maaf saja tidak cukup untuk mengembalikan semua yang telah hilang, Sebastian.” “Lalu… apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku?” Jawaban itu datang perlahan, nyaris seperti berbisik, tapi dinginnya memotong lebih dalam daripada pisau. “Maka… kau juga harus mati.” ****** Langkah wanita itu terdengar pelan saat memasuki halaman rumah besar sambil menyeret kopernya. Kedatangannya di sambut oleh tatapan terkejut dua satpam yang berjaga di gerbang utama. "Nyo-nyonya Sarah?" "Iya, ini saya, pak? Gimana kabar kalian?" Jawab Sarah, alias Farah, yang telah melakukan penyamaran sempurna sebagai saudarinya. Dress sederhana sampai ke bawah lutut, rambut diikat rendah dan make up yang tidak seberapa. Tampak terlihat sangat natural. Tidak lupa juga dengan raut wajah yang ramah dan murah senyum. Kedua satpam tersebut tampak tak bisa berkata-kata. Wajah pucat dan mata Belo, seperti sedang melihat hantu. Bahkan mulutnya nyaris berteriak. Namun salah satu dari mereka sudah memastikan bahwa sosok di hadapannya itu manusia dan nyata, dilihat dari kakinya yang masih menapak dengan tanah. "Ti-tidak mungkin! Bukankah Anda sudah mati?" Ucap satpam itu dengan spontan. Bagaimana pun, kabar kematian itu sudah disiarkan setahun yang lalu. Jika ia muncul baru sehari dua hari kematiannya, mungkin masih bisa di terima. Jadi, Farah tidak marah mendengar ucapan spontan satpam tersebut. Dia tetap tersenyum. "Yang mati itu bukan saya, pak. Mereka salah mengenali mayat. Saya masih hidup, hanya saja saya tidak bisa pulang karena saat itu saya kehilangan ingatan. Sekarang saya sudah ingat semuanya, makanya saya bisa kembali." Jelas Farah dengan lugas dan santai. Kedua satpam itu saling tatap dengan wajah tercengang. Setelah beberapa detik sadar, mereka cepat-cepat membuka gerbang lebih lebar. "Selamat datang kembali Nyonya." Ucap kedua satpam itu dengan wajah haru hampir menangis. Farah menganggukkan kepalanya, tersenyum. Lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk lebih dalam. Ketika baru beberapa langkah kaki, ia langsung berhenti. Tak jauh darinya, seorang nenek tua yang duduk di kursi roda menatapnya terkejut. Bahkan kedua wanita yang menemani nenek itu pun memiliki ekspresi yang sama. "Kau..." Farah menyunggingkan senyum. "Apa kabar... Nenek?" "Apa kau nyata? Bagaimana bisa kau masih hidup?" Tanya Nenek Sabrina. "Ada terlalu banyak hal yang terjadi. " Ungkap Farah sambil mengamati sekeliling rumah, lalu kembali menatap Sabrina. "Tidak nyaman untuk bicara disini. Kenapa kita tidak masuk ke dalam dan mengobrol?" Tawarnya sambil membawa kakinya masuk, melewati Sabrina. "Tapi..." Langkah Farah terhenti. Ia menoleh ke arah Sabrina, menunggu ucapan selanjutnya. Sabrina hanya menatap lurus kedepan sehingga yang terlihat oleh Farah hanyalah sanggulnya yang berwibawa. "Rumah ini tidak lagi sama." Ungkapnya. "Setelah kematianmu, Sebastian berubah pikiran dan menikahi Amanda. Sekarang, kamar yang dulu kau tempati bukan lagi milikmu." Tambahnya. Sabrina menoleh ke arah Farah untuk melihat ekspresinya. Namun yang terlihat hanyalah tatapan tenang dan senyum yang tak juga luntur. Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu. Farah berbalik sepenuhnya, dan kembali menghampiri Sabrina. "Aku tahu." Ia diam sejenak. "Pernikahan itukan yang nenek inginkan? Tidak apa-apa. Saat ini, aku tidak keberatan. Bagaimana pun Sebastian tidak tahu bahwa aku masih hidup. Kalau dia tahu, dia tidak akan mengkhianatiku. Jadi aku memakluminya. Aku tidak keberatan berbagi suami. Tapi sekarang aku sudah kembali, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku." Lanjut Farah dengan senyum lebar. "Tidak. kau salah." Ujar Sabrina. Senyum Farah memudar perlahan. Ia menatap Sabrina dengan kening berkerut. "Apa yang membuat nenek tidak yakin?" "Aku bukan tidak yakin padamu. "Ucap Sabrina. "Kamu dan Sebastian menikah sudah hampir tiga tahun. Tapi Amanda memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan kepada Sebastian." Ungkapnya. "Maksud Nenek?" "Amanda hamil." Ungkap Sabrina. "Dan saat ini usia kandungannya sudah 5 bulan." Deg! Jantung Farah berdegub keras. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Amanda hamil? Jadi... Jadi dia bisa memberikan Sebastian keturunan?" Ucap Farah dengan mulut terbata-bata. "Ya." Jawab Sabrina. "Dan kau bisa lihat nanti bagaimana sikap Sebastian terhadap Amanda—" Belum selesai bicara, Farah sudah lebih dulu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Meninggalkan nenek Sabrina dan dua pelayan disisinya beserta kata-kata yang mengambang di udara. Tanpa menunggu siapapun yang menyambut lagi, Farah membuka pintu lebar-lebar. Seolah sudah menghafal dengan tata letak dan posisi rumah yang sebelumnya belum pernah dia tempati. Tepat ketika ia masuk, suarah serpihan kaca terdengar. Tatapan terkejut dan suara tercekat Amanda menyambutnya di pintu utama. "K-kau—ba-bagaiamana-bisa—" terlihat seperti jantung Amanda yang hampir copot dari tempatnya dengan nafas yang terputus-putus. Wajahnya pucat pasi. Persis seperti melihat orang mati yang bangkit dari kubur. Tapi Farah tidak mempedulikannya. Tatapannya turun ke bawah, tepat ke arah perut Amanda yang terlihat menonjol. Dan persisi seperti apa yang dikatakan Sabrina, Amanda benar-benar hamil. Dan itu adalah anak Sebastian. Amanda hampir jatuh ke lantai. Untungnya, dua pelayan yang tadi menemani Sabrina sudah berada disisi Amanda dan dengan sigap menahan tubuhnya. Sabrina sendiri sudah berada di samping Farah. "Hati-hati dengan sikapmu. Kau hampir mencelakai penerus keluarga Wijaya." Ucap sang Nenek. "Bawa dia istirahat ke kamarnya." Titahnya pada dua pelayan tersebut. Pelayan itu pun menurut dengan patuh. Mereka langsung memapah Amanda menuju kamar. Tempat yang dulu pernah menjadi milik Sarah dan Sebastian. Farah menatap ke arah pintu yang tertutup. Lalu beralih ke arah nenek yang baru ia sadari kehadirannya. "Aku baru saja kembali. Jadi aku ingin istirahat sebentar." Ucapnya. "Masih ada banyak kamar tamu yang luas. Pilih saja tempat yang kau suka." Ucap nenek itu. Yang membuat hati Farah berdesir hebat. Perasaan sakit itu terasa nyata. Kamar tamu? Sarah bukan lagi istri Sebastian, tapi hanya sebagai tamu di rumah itu. Sebelum Farah benar-benar membawa langkahnya pergi, Sabrina kembali menoleh. "Kau bisa menjelaskan kemana kau pergi selama setahun ini nanti. Saat Sebastian juga mungkin sudah pulang. Tapi kau jangan kaget dengan perubahan sikapnya." Ucapnya. Farah diam sejenak. Tatapannya kembali ke pintu kamar yang tertutup milik Amanda. Kamar yang sempat ia hafal sebagai kamar milik Sarah dan sebastian. Kini kamar itu dengan mudah berganti pemilik meski sebagian masih sama penghuninya. Hati manusia memang tidak mudah di tebak. Apa begitu juga cintamu kepada Sarah, Sebastian? Perasaanmu pada Sarah hanya sementara? Atau memang tidak pernah ada sejak awal? Hati Farah seolah ikut berdenyut sakit, meski dirinya bukan Sarah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
17.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Kali kedua

read
218.9K
bc

TERNODA

read
200.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
77.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook