Bab 2

930 Words
Farah memasuki kamar yang paling dekat dengan ruang keluarga. Ruangannya tampak sederhana. Tempatnya tidak terlalu kecil namun sangat pas untuk di tempatnya seorang diri. Meski dalam hati ia masih mengomentari sikap Sebastian yang tidak adil terhadap mendiang saudarinya. Jika memang cinta, seharusnya tidak akan semudah itu berpaling bukan? Apakah karena Sarah tidak bisa memberikannya keturunan? Atau memang lagi-lagi karena tidak ada cinta Sebastian untuk Sarah sejak awal? Farah benar-benar perlu menyelidiki semua itu dengan baik. Setelah menyeret koper menuju lemari, Farah membuka semua isinya lalu memasukannya kedalam lemari dengan rapi dan tersusun. Hanya dalam beberapa menit saja dia sudah selesai mengerjakannya. Ketika melirik jam, ia merasa masih punya waktu untuk istirahat. Berpura-pura lelah untuk mengatur strategi. Setelah satu jam berlalu, akhirnya Farah terbangun. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jika dihitung waktunya, harusnya cukup untuk menyelesaikan semuanya. Dan begitu dia selesai, Sebastian pasti sudah kembali dari kantor. Itu adalah waktu yang tepat untuk kemunculannya di ruang makan. Beberapa saat kemudian, Farah telah selesai mandi dan berdandan seperti Sarah sungguhan. Gaun sederhana dan make up yang tipis. Setelah beberapa kali memastikan penampilannya, ia melangkahkan kakinya keluar. Mengawalinya segalanya dengan satu tarikan nafas. Begitu menutup pintu kamar secara perlahan. Farah dapat mendengar suaraka kebisinginan dari arah meja makan. Iya. Itu adalah ruang makan. Bukan karena Farah hafal tempatnya, tapi suara dari dentingan sendok dan garpu sudah menjadi sebuah petunjuk baginya. Hebat sekali. Saat makan malam begini, bahkan tidak ada yang datang untuk menyuruhnya makan malam. Atau sekedar memberitahu bahwa makan malam sudah siap. Kemana semua pelayan itu? Apa mereka semua telah disetting untuk tidak melayani tamu? Meski saat itu semua orang seharusnya tahu Farah bukanlah sekedar tamu. Langkah demi langkah ia bawa menuju ruang makan itu. Hanya tinggal beberapa jarak lagi, Farah sudah bisa melihat ketiga orang itu berkumpul disana. Sabrina yang terlihat beberapa kali tertawa sambil menutup mulut. Tampak sangat riang. Amanda yang berbicara sambil sesekali tersenyum dan mengelus bahu Sebastian dengan hangat. Lalu Sebastian sendiri, Farah bisa melihatnya pria itu tengah makan dengan tenang sambil sesekali menanggapi candaan mereka berdua. Betapa hangat dan romantisnya ruang makan itu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi. Langkah Farah terhenti saat kepala Sebastian berputar, dan menoleh ke arahnya. Awalnya hanya tatapan biasa seolah yang datang bukanlah sosok yang begitu penting. Tapi beberapa detik setelahnya, pandangan Sebastian berubah. Sorot matanya menyiratkan keterkejutan yang begitu besar hingga kedua matanya melebar sedikit. Sendok dan garpu yang di pegangnya lepas dari tangannya tanpa disadari. Menimbulkan bunyi yang memperjelas suasana. "Sarah?" Sebastian berdiri perlahan. Menghadap Farah sepenuhnya. Pandangannya tampak tak percaya, seolah belum yakin apakah dihadapannya itu sosok asli atau hanya hayalan. "Apa kamu benar Sarah?" "Apa kamu sungguh Sarah?" Tanyanya lagi. "Ya, aku Sarah." Jawab Farah dengan tenang. Sambil membalas tatapan Sebastian yang begitu terkejut. "Bagaimana mungkin?" Lirih Sebastian. "Bagaimana mungkin kamu Sarah?" Farah tersenyum. "Ada terlalu banyak hal yang terjadi. Aku bisa menceritakan semuanya jika kamu ingin tahu. Tapi intinya, aku memang masih hidup. Yang mati itu bukanlah aku." "Lalu siapa yang mati? Kenapa mereka bilang itu kamu? Kenapa harus kamu?" Farah menggelengkan kepalanya. "Ada terlalu banyak orang yang menginginkan aku mati. Jadi tidak heran jika ada yang malsukan kematianku. Menyebut mayat orang lain sebagai mayatku." Ucapnya. Sebastian terdiam. Farah mengamati perubahan ekspresinya. Ia menoleh ke arah Sabrina yang juga diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun dan Amanda yang menatapnya dengan kening berkerut. Tatapan Farah tertuju pada tangan wanita hamil itu yang memegang lengan Sebastian dengan erat. Seolah takut Sebastian lepas jika lengah sedikit saja. Farah menahan ekspresi wajahnya. "Aku tidak percaya bahwa ternyata kamu masih hidup." Ungkap Sebastian masih dengan nada yang shock. "Ini benar-benar diluar dugaan dan sedikit tidak masuk akal. Lalu siapa yang mati? Dan bagaimana kamu masih bisa selamat? Aku mendengar jelas itu adalah kecelakaan maut. Mobil terbakar dan orang di dalamnya bisa saja hangus. Kalau mayat itu bukan kamu, kenapa dia bisa ada di dalam mobil?" Deg! Farah menatap lurus mata Sebastian. "Orang yang terbakar itu tidak di dalam mobil. Tapi kebetulan ada disekitar area mobil sehingga terkena ledakan dan hangus. Aku berhasil menyelamatkan diri sebelum mobil sempat meledak. Sayangnya... Saat itu aku kehilangan ingatanku, jadi aku tidak ingat apapun. Saat orang-orang menyelamatkanku mereka membawaku tanpa tahu siapa aku dan dimana aku tinggal. Aku bisa mengingat semuanya ketika aku sudah benar-benar pulih." Ungkapnya. "Jadi kamu sempat kehilangan ingatan?" Tanya Sebastian. Farah mengangguk. "Semua terjadi diluar dugaan ku. Aku tidak tahu bahwa aku sempat dikabarkan mati." Sebastian melepaskan tangan Amanda darinya, namun Amanda enggan untuk melapaskan Sebastian begitu saja. "Mas.." "Amanda." Ucap Sebastian tegas. "Sarah sudah kembali. Dia adalah istriku." Amanda menggeleng, "Tapi Mas, kalian sudah setahun berpisah dan—" "Itu tidak disengaja." Potong Sebastian. Amanda akhirnya mengatupkan bibirnya, menunduk, mengelus perutnya dengan perlahan. Farah menyaksikan itu dengan emosi yang bercampur aduk. Saat ia kembali menatap Sebastian, pria itu sudah mendekat ke arahnya. Lalu datang dan memeluknya dengan erat. Farah yang tidak siap sedikit terkejut. Dengan pelukan yang begitu erat dan hangat, seakan syarat dengan kerinduan yang begitu besar, ia membalas pelukan itu dengan emosi yang sama. "Aku merindukanmu, sayang. Terimakasih kamu sudah kembali. Maaf kalau aku begitu lalai dan ceroboh menjagamu sehingga kamu harus mengalami hidup yang sulit. Aku berjanji akan menjagamu, tidak akan pernah membiarkanmu mengalami hal yang menyakitkan lagi." Janji Sebastian saat itu, tepat ditelinga Farah. Yang terdengar begitu lembut dan tulus. Farah membalas pelukan Sebastian. Menepuk bahunya dan mengucapkan kata terimakasih yang juga terdengar tulus dan dalam. Namun dibalik senyumnya itu, matanya Mengamati ekspresi wajah Sabrina dan Amanda. Yang keduanya sama-sama terdiam. Amanda hanya menatap tajam namun tidak begitu kentara. Dan sabrina yang terlihat tidak kesal ataupun senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD