Bab 24

1306 Words

Malam itu, meja makan sudah tertata rapi. Lampu gantung memancarkan cahaya hangat ke seluruh ruangan, memantul di permukaan porselen dan gelas kristal. Farah duduk di kursinya, buket bunga di samping, wajahnya menampilkan ketenangan yang dipaksakan, sementara pikirannya tetap sibuk menilai setiap gerak-gerik di sekelilingnya. Sebastian duduk di sebelahnya, tetap menatapnya dengan hangat, matanya tidak lepas dari Farah seakan ingin memastikan ia baik-baik saja. Sabrina duduk di kursi rodanya, menatap dengan sorot mata tajam. Diamnya bukan berarti ia pasif; nenek itu selalu memperhitungkan setiap kemungkinan. Amanda berada di seberang Farah, tangannya menyilang, matanya mengamati setiap interaksi dengan ketidakpuasan yang jelas. Tidak ada kata yang terucap dari Sabrina, tapi aura pengawasan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD