Bab 4

900 Words
"Aku mencintaimu. Kamu tau itukan?" Ucap Sebastian. Terdiam sejenak. Lalu menghela nafas. "Aku harap kamu mau mendengar penjelasanku." Ucapnya sambil menatap mata Farah. Farah mengangguk dan tersenyum lembut. Kedua tangannya mengusap kedua lengan Sebastian seolah menenangkannya. "Kalau kamu mau ceritakan semuanya dengan jujur, aku pasti akan mendengarkan." “Aku sendiri masih belum bisa mempercayai semua ini,” ungkap Sebastian lirih. Ia menghela napas panjang, seolah beban di dadanya terlalu berat untuk dipikul sendirian. “Kamu tahu betapa aku sangat mencintaimu,” lanjutnya. “Saat kamu pergi, aku seperti kehilangan akal. Aku sering pergi ke klub, minum sampai tidak sadar diri.” Sebastian menunduk, suaranya bergetar. “Enam bulan yang lalu… aku tiba-tiba terbangun di sebuah kamar hotel. Dan Amanda ada di sampingku.” Ia menggeleng pelan. “Aku tidak tahu sejak kapan aku ada di sana. Aku juga tidak tahu kenapa dia ada di situ. Sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya.” Tatapannya naik, menatap Farah dengan mata penuh penyesalan. “Aku sama sekali tidak mengingat apa pun, sayang,” katanya putus asa. “Tolong… maafkan aku. Jangan marah padaku.” “Aku memang ingat saat dia datang menemuiku, meminta pertanggungjawaban, dan mengaku sedang mengandung anakku. Tapi aku benar-benar tidak ingat pernah melakukan hal itu dengannya.” Sebastian memejamkan mata sejenak, suaranya hampir runtuh. “Kejadian di kamar hotel itu… masih menjadi misteri bagiku sampai sekarang.” Farah bahkan bisa melihat bagaimana frustasinya dia. Jadi dia mendekat dan memeluk Sebastian seolah memberikannya bertanda bahwa ia tidak marah, ia tidak menyalahkannya dan ia tidak meragukan kalau hati Sebastian masih untuknya. Lebih tepatnya untuk Sarah. "Aku mendengarkanmu. Dan aku percaya padamu. Mas" Ucap Farah dengan lembut. Sebastian sangat terkejut. Namun dia tersentuh. Ia balas memeluk Farah dan mencium pucuk kepalanya dengan penuh kelegaan. "Terimakasih, Sayang. Aku minta maaf padamu karena tidak teliti mencarimu. Aku memang suami yang bodoh—" "Sstt." Farah mengangkat wajahnya dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Sebastian. Agar lelaki itu tak terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. "Ini bukan salahmu, Mas. Aku tidak pernah menyalahkan kamu." Ucapnya. "Tapi—" "Aku tahu. Aku terima pernikahan kamu dan Amanda. Bagaimanapun itu kecelakaan yang tak di sengaja. Dan musibah yang aku alami juga bukan disengaja. Semua bukan salahmu. " Ucap Farah. Ia mengangkat tangannya untuk mengusap air mata di pipi Sebastian. Seketika Sebastian tersenyum penuh haru, mengangkut kedua tangan Farah dan menciumnya. "Ayo kita istirahat. Bukankah kamu tadi pusing?" Farah mengangguk. "Iya aku sedikit pusing. Ayo kita tidur." Keduanya berjalan ke arah kasur. Sebastian disisi kiri dan Farah disisi kanan. Keduanya tidur sambil saling memeluk dan berhadapan. ***** Tapi ini pertama kalinya Farah tidur dengan seorang laki-laki. Jadi dalam hati terasa sangat deg degan. Keduanya saling berhadapan sehingga Farah bisa merasakan hembusan nafas Sebastian. Jarak wajah mereka juga begitu dekat. Sebastian memeluknya dengan erat. Sepuluh menit berlalu, setelah Farah bisa mendengar nafas Sebastian yang teratur, ia membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah damai pria itu. Terlihat sangat tenang dan polos. Sesaat, Farah terpana menatap struktur wajah Sebastian. Pria itu terlihat begitu tampan dengan wajah yang nyaris sempurna. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan bulu matanya panjang, berpadu dengan alis yang tebal dan rapi. Begitu menawan hingga sulit untuk diabaikan. Tak heran jika saudarinya dulu bisa jatuh cinta pada pria yang kini tertidur di hadapannya. Tapi, Farah masih belum mempercayai sikap Sebastian terhadap Sarah. Apa itu bentuk cinta? Apa itu bentuk sayang? Apa semua sikap Sebastian pada Sarah itu tulus? Apa ucapannya benar-benar dari hati? Entahlah. Farah belum bisa mengambil kesimpulan untuk saat ini, karena penyamarannya baru saja di mulai. Bisa dibilang, ia belum melakukan apa-apa hari ini. Masih ada terlalu banyak hal yang perlu ia selidiki. Salah satunya adalah kehamilan Amanda. Apakah benar Sebastian tidak tahu apa-apa? Terlalu banyak rahasia yang di sembunyikan dalam rumah itu. Jika saja Sarah masih hidup mungkin dia tahu segalanya. Tatapan Farah kembali tertuju pada wajah Sebastian. Melihat bibir pria itu yang sesekali bergerak saat tertidur membuatnya tak kuasa menahan senyum kecil yang mengembang di wajahnya. Meski bertubuh tinggi dan berpostur besar, Sebastian yang terlelap justru terlihat seperti anak kecil yang polos dan tenang. Perhatian Farah kemudian jatuh pada bulu mata Sebastian yang panjang, bergerak halus mengikuti napasnya. Tanpa sadar, tangannya terangkat. Jemarinya menyentuh ujung bulu mata itu dengan sangat perlahan, hati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan yang sedang dinikmatinya. Namun di luar dugaan Farah, mata Sebastian tiba-tiba terbuka. Seketika itu juga, Farah refleks menurunkan tangannya dan memejamkan mata erat-erat, berpura-pura terlelap pulas. Ia berusaha mengatur napasnya agar terdengar teratur dan tenang. Sayangnya, jantungnya berdegup terlalu kencang, membuat napas Farah justru tersendat. Ia hanya bisa berharap Sebastian tidak menyadari kegugupannya, atau mendengar detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari d**a. Beberapa saat berlalu tanpa terdengar pergerakan apa pun. Hingga, di luar dugaan Farah, ia merasakan sesuatu yang lembap dan dingin menyentuh kulit keningnya. Sentuhan itu bertahan cukup lama, lalu perlahan turun ke pelupuk matanya, ke hidungnya, dan akhirnya berhenti di bibirnya. Tangan Farah mengepal erat di atas seprai. Seluruh tubuhnya menegang saat ia menyadari apa yang sedang terjadi. Sebastian menahan bibirnya di atas bibir Farah begitu lama, lalu menjilat bibirnya. Kedua mata Farah refleks terbuka. Tangannya segera mendorong bahu Sebastian, membuat ciuman itu terlepas sejenak. Namun jarak itu hanya bertahan sesaat. Sebastian menahan kedua tangan Farah, lalu menindihnya. Kini pria itu berada di atasnya dalam keadaan sadar sepenuhnya. Ia mendekatkan wajahnya kembali, lalu tanpa ragu menyambar bibir Farah sekali lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD