Farah tetap berada di perpustakaan beberapa saat setelah Amanda pergi. Jantungnya belum sepenuhnya tenang, tetapi pikirannya mulai bekerja lebih teratur. Surat Sarah masih terasa berat di dalam tasnya, seolah mengingatkan bahwa setiap langkah yang ia ambil mulai sekarang tidak lagi sekadar soal bertahan hidup, melainkan soal pilihan. Ia menutup buku tua itu dan mengembalikannya ke rak. Tidak ada gunanya terlalu lama berada di tempat yang mudah diawasi. Rumah ini penuh mata dan telinga. Terlalu banyak ruang yang tampak sunyi, tetapi sebenarnya tidak pernah benar-benar kosong. Saat Farah keluar dari perpustakaan, ia hampir bertabrakan dengan seorang pelayan muda. Pelayan itu terkejut dan buru-buru menunduk. “Maaf, Nyonya Sarah,” ucapnya gugup. Farah mengangguk singkat. “Tidak apa-apa.”

