Tetes embun pagi di atas daun dan kelopak bunga seperti butiran kristal bening. Hawa dingin membasuh seluruh ruangan, meninggalkan jejak-jejak temaram malam. Burung-burung mulai memamerkan senandung cinta mereka. Dan para penghuni benteng mulai melakukan kegiatan: membersihkan debu yang menempel di baju zirah, mengecek, dan menajamkan senjata. Para pelayan sudah menyiapkan pakaian Rufus. Seperti biasa, Rufus terlihat menawan dengan apa pun yang melekat di badannya. Seolah dia memang terlahir sempurna. Garis rahang tegas serta sudut bibir menawan yang sudah pasti mampu memabukkan setiap wanita. Tapi tidak dengan Melisa. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Rufus. Rufus masih bisa mengingat bunyi jantung Melisa yang berdegub kencang ketika dia merengkuhnya. Mereka berdua merasakan hal ya

