Rufus terdiam di depan pintu kamar Melisa. Tangannya tidak segera menaati perintah untuk mengetuk. Diam mematung. Dia tengah bergelut dengan perasaannya—menimbang kemungkinan Melisa bersedia menjumpainya. Ada masa di mana Rufus tidak mampu menyelesaikan permasalahan. Seperti saat ini. Dia berjuang menggerakkan otot-otot tangannya. Hatinya terus memanggil nama Melisa. Setiap degub jantungnya mengirimkan dentuman keras yang menggema di kedua telinganya. Dentuman yang terus mendorongnya untuk menemui Melisa. Merengkuhnya dan mendekapnya dalam pelukan hangat. Bersama untuk selamanya .... Akhirnya Rufus memutuskan untuk mengetuk pintu. Tidak ada satu jawaban pun keluar dari dalam sana. Rufus mencoba mengulang ketukan dan jawaban yang didapatnya hanyalah keheningan. Rufus menghela napas dan

