Melisa masih menangis. Dia tidak pernah menyangka akan serapuh ini. Berusaha tegar untuk menutup bendungan emosi yang menyapu ketetapan hatinya. Bisa saja Melisa berpura-pura tersenyum dan melupakan kebohongan Rufus. Tapi rasanya terlalu berat untuk dilakukan. Bagaimana Melisa bisa tersenyum ketika hatinya terluka? Tidak. Dia tidak bisa melakukannya. Tok, tok. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Melisa. Diam sejenak. Enggan untuk bangkit. Melisa tidak bersemangat menyapa pengunjungnya. Pintu kembali diketuk, dan kali ini disertai dengan suara. ″Bisa kita bicara?″ Rayan, pikir Melisa. Melisa segera menyapu jejak-jejak derai air mata yang menghiasi kedua pipinya. Dia bangkit dari keterpurukkannya dan berusaha tidak menampakkan kesedihan. Dengan pelan Melisa membuka pintu. Terlihat

