Melisa terbangun di dalam kamarnya. Di samping tempat tidurnya—tepat di atas nakas—tampak hidangan yang sudah dingin. Melisa tidak tahu sudah berapa lama dia terlelap, bahkan Melisa tidak sadar kapan dirinya jatuh tak sadarkan diri. Tanpa perlu menengok ke jendela, Melisa tahu sang surya sudah lenyap. Melisa mulai merasakan kesedihannya lagi. Air mata kembali membasahi pipinya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Rufus dan Nava telah merencanakan semuanya. Dan kini Melisa merasa muak. Melisa bertanya pada dirinya sendiri, jika dia sudah tidak memiliki hasrat, mungkinkah dia tidak ada bedanya dengan mahluk tak bernyawa? Sudah lama sekali sejak terakhir kali Melisa menangis. Lelah. Rasanya sangat melelahkan. Jiwa dan raganya seolah kosong. Jika dia bisa merubah apa yang telah diberikan Tuhan

