Pemandangan yang menyambut rombongan Fabius di Hardenbergia adalah merah. Merahnya api yang membakar pepohonan dan meninggalkan bekas hitam dan asap. Merahnya darah yang bercampur dengan pekatnya darah seorang iblis. Merahnya arang yang masih membara. Merahnya amarah yang berdenyut di nadi mereka. Saat ini, semuanya akan dipertaruhkan. Ini bukanlah dunia fairy yang dibayangkan Melisa. Tidak ada kupu-kupu dengan sayap indah yang menyapanya. Tidak ada dataran bunga yang menyebarkan harum semerbak. Hanya ... kehancuran. ″Mel,″ kata Rayan yang ada di samping Melisa. ″Jika ingin mundur. Inilah saatnya.″ ″Tidak,″ tegas Melisa. ″Aku akan tetap maju.″ Ya, dia tidak akan mundur. Melisa tidak ingin dikuasai oleh ketakutan. Tidak ada waktu untuk merintih. Kunci yang bisa mengembalikannya ke rum

