Pagi itu langit mendung. Udara di sekitar rumah Sophia terasa menekan, seakan ikut merasakan ketegangan yang membungkus tubuh wanita itu. Di balik jendela, Sophia menatap sebuah mobil hitam yang baru saja berhenti di depan rumahnya. Itu Vincent. Ia datang tepat waktu, seperti yang dijanjikan dalam pesan malam tadi. Sophia berdiri mematung di balik tirai jendela, memeluk tubuhnya sendiri. Jantungnya berdebar cepat. Telapak tangannya berkeringat. Kepalanya penuh dengan satu kalimat yang terus berulang: Aku harus cari cara... aku tidak boleh sampai rumah sakit... Ia mundur perlahan dari jendela, menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah pintu rumah. Tangannya menggenggam gagang pintu dengan gemetar. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan. Nafasnya ia hembuskan berkali