Di dalam ruang keluarga rumah keluarga William yang megah, dengan langit-langit tinggi dan chandelier kristal yang menggantung anggun di atas ruang tamu, suasana mendadak mencekam. Catherine duduk di ujung sofa panjang dengan kaki bersilang, matanya menyala penuh ketegangan. Gregory, suaminya, berdiri dengan kedua tangan di saku celana jas, menatap putra tunggalnya yang baru saja memanggil mereka untuk berbicara serius. Vincent berdiri di hadapan kedua orang tuanya, raut wajahnya tenang tapi jelas menyimpan keraguan. Ia menarik napas panjang, mencoba merangkai kalimat yang tak terdengar seperti bom waktu. “Aku... harus bilang sesuatu pada kalian,” ucap Vincent akhirnya. “Sophia bilang… dia hamil.” Suara itu jatuh seperti petir di ruangan. Catherine langsung tertawa pendek— satu tawa ya