Hujan turun deras saat Vincent memarkir mobilnya di garasi rumah megah mereka. Udara terasa berat, seolah ikut menanggung beban emosional yang menyelimuti hubungan Vincent dan Nancy. Baru saja keluar dari sidang yang kembali tertunda, wajah Nancy menunjukkan ekspresi tak tertahankan. Matanya tajam, rahangnya mengeras, dan jemari tangannya mengepal erat sepanjang perjalanan pulang. Begitu pintu rumah dibuka, Nancy melangkah cepat ke dalam ruang tamu tanpa melepas heels-nya. Nafasnya memburu. Vincent menyusul dari belakang dengan wajah cemas, tapi belum sempat ia berkata sepatah kata pun, Nancy meraih sebuah vas bunga kristal yang terletak di meja konsol dekat dinding. "Kenapa harus ditunda lagi, Vincent!" teriak Nancy sebelum melempar vas itu ke arah lantai. Suara pecahan kristal membaha