Ancaman Diam-diam

1394 Kata

POV Raka “Ada yang sedang mengawasi kamu, Raka." Kalimat itu pertama kali keluar dari mulut Bagas, tiga hari setelah aku datang ke rumah Mama dan mengumumkan rencanaku menikahi Selira lagi. Kami duduk di parkiran belakang kantor, bukan di ruanganku seperti biasa. Bagas yang meminta, katanya lebih aman. “Apa maksudmu?” tanyaku tenang, meski instingku langsung menegang. “Ada mobil yang sama parkir di seberang kantor kamu sejak kemarin. Ganti orang, tapi platnya masih rangkaian yang sama. Aku cek itu plat palsu.” Aku terdiam. Jakarta bukan kota yang kekurangan mobil parkir sembarangan. Tapi kalau Bagas sudah bicara, berarti ini bukan kebetulan. “Kamu pikir ini ada hubungannya dengan…?” Aku menggantung kalimat. “Rendra,” jawab Bagas tanpa ragu. “Atau orang-orang yang tidak suka kamu te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN