PoV Raka Aku tiba di kantor Bagas ketika malam sudah turun sepenuhnya. Gedung kantor BNN itu masih cukup ramai. Beberapa lampu di lantai atas masih menyala terang. Beberapa penyidik terlihat mondar-mandir membawa berkas. Sementara yang lain duduk di depan layar komputer yang penuh dengan data. Kasus besar memang tidak pernah mengenal jam pulang. Begitu keluar dari lift, mataku langsung menangkap papan besar di tengah ruangan. Papan itu penuh dengan foto, nama, dan garis-garis yang saling terhubung. Sebuah peta jaringan. Aku berhenti beberapa detik memperhatikannya. Kasus ini jelas bukan perkara kecil. “Raka.” Aku menoleh. Bagas berjalan mendekat dari ujung ruangan sambil membawa map tebal di tangannya. “Lo datang juga.” “Lo yang memanggil.” Bagas tersenyum tipis. “Ayo, masuk!

