Mobil Hitam

1324 Kata

Aku masih ingat pagi itu dengan sangat jelas. Pagi yang seharusnya tenang. Pagi yang seharusnya biasa saja. Sejak aku dan Selira menikah lagi, hidup kami perlahan mulai menemukan ritmenya sendiri. Tidak mewah, tidak gemerlap seperti dulu ketika aku masih hidup di bawah bayang-bayang keluarga besar Wiratama. Namun, justru karena sederhana itulah semuanya terasa jauh lebih nyata. Apartemen yang dulu kubelikan untuk Selira dan Arsa kini menjadi tempat kami tinggal bersama. Tidak besar, tidak mewah, hanya ruang sederhana di tengah hiruk-pikuk kota. Namun anehnya, di tempat inilah aku justru merasakan ketenangan yang selama ini sulit kutemukan. Sejak membela kasus Selira, aku memutuskan untuk keluar dari rumah mama, demi menghindari konflik keluarga. Bagiku, melihat Selira tersenyum di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN