Ruangan rapat itu seolah menjadi arena pertarungan, bukan tempat mencari solusi. Pendingin ruangan disetel pada suhu paling rendah, namun hawa panas tetap mendominasi. Bukan karena cuaca, melainkan karena suara-suara keras yang saling tumpang tindih, penuh amarah dan caci maki. Meja panjang dipenuhi berkas-berkas, tetapi bukannya dibaca dengan tenang, justru dijadikan tameng untuk menuding satu sama lain. Victor menutup mata sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, berusaha menekan rasa frustrasi. Padahal, ia sama sekali tidak sedang sakit kepala. Semua rasa pening itu semata-mata akibat tingkah laku orang-orang di hadapannya. Mereka terlalu sibuk menyalahkan, membela diri, dan membesarkan ego masing-masing. ‘Tidak bisakah kalian bicara dengan kepala di

