Di tengah kerumunan yang padat dan riuh, seorang laki-laki berdiri tegak, menatap panggung dari balik kacamata hitamnya. Rambutnya yang kecokelatan tampak berkilau diterpa sinar matahari siang. Ia mengenakan celana denim hitam yang ketat dan kemeja merah menyala yang kontras dengan warna-warna netral di sekitarnya. Penampilannya mencolok, seolah menantang siapa pun yang berani menilai. Tapi ia tidak peduli. Ia datang bukan untuk bersembunyi. Di telinganya terpasang headset kecil, mengalunkan musik yang hanya bisa ia dengar sendiri. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama, seolah dunia di sekitarnya hanyalah latar belakang dari pertunjukan pribadinya. Anting perak di telinga kirinya memantulkan cahaya, menambah kesan eksentrik pada sosoknya. Saat Victor naik ke panggung dan mulai berp

