Udara masih lembab, aroma tanah basah dari sisa hujan semalam merayap masuk lewat jendela terbuka. Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang tamu yang sempit, menyinari jejeran kantong makanan yang belum seluruhnya dibuka. Di tengah lantai keramik tua, Ian duduk bersila sambil memainkan robot barunya—tangannya lincah, matanya berbinar. Di sampingnya, Adnan duduk bersandar ke dinding, wajahnya tak henti memandangi anak kecil itu seperti hendak menelan setiap detik kebersamaan. Sesekali ia pun menyuapi anaknya makan dengan makanan yang ia beli. Tapi waktu tak bisa ditahan. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 08.15. Adnan menghela napas pelan, lalu menyentuh kepala Ian dengan lembut. “Ian sayang, Papa harus pergi kerja dulu, ya?” Anak itu berhenti bermain. “Papa … keja?” “Iya. Nanti