Langkah kaki terdengar berat tapi mantap, beradu dengan lantai marmer restoran yang tenang namun penuh bisik-bisik arisan. Seorang pria jangkung dengan setelan kasual blazer navy dan celana abu-abu gelap masuk ke ruangan, membawa serta aroma parfum maskulin yang segar dan lembut. Darius. Oma Widya langsung berdiri dengan semangat bak remaja yang melihat idola K-Pop. “Nah, itu dia anak bungsu kesayangan Oma!” Adnan memutar tubuhnya pelan. Matanya menajam, menghela napas panjang begitu mengenali sosok yang baru masuk. Pria itu terlalu sempurna. Wajah tampan dengan rahang tegas, alis tebal, dan sorot mata teduh yang mudah meluluhkan siapa saja. “Mas Darius?” gumam Indira pelan, refleks ikut menoleh. Darius menatap ke arah meja mereka—matanya membulat sejenak saat melihat Adnan duduk bers