Suara klik dari pintu yang dibanting pelan membuat atmosfer dalam rumah yang semula tegang, mendadak membeku. Indira duduk mematung di atas pangkuan Adnan, wajahnya merah padam bukan karena malu, tapi karena kesal setengah mati. “Pak Adnan! Itu tadi keterlaluan banget tahu nggak?! Nggak sopan banget langsung masuk gitu aja tanpa izin. Rumah saya ini, bukan ruang meeting kantor!” semburnya cepat dan penuh emosi, dadanya naik-turun. Adnan justru masih duduk santai di sofa, tangannya masih merangkul pinggang mantan istrinya. Senyum jahilnya tak hilang sejak tadi. “Lah, kamu aja tadi nyuruh saya pulang, tapi sambil jatuh ke pangkuan saya. Itu sinyal atau apa, Bu Indira? Berarti saya tidak boleh pulang, kan?" “Haduuuh!” Indira menepuk dahinya sendiri, lalu gegas bangkit dari pangkuan Adnan,