Kehidupan Alifa seolah menemukan denyutnya kembali. Pagi-paginya kini selalu sibuk—bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan kecil yang ia jalani dengan senyum. Ia harus membagi waktu antara mengurus Kiara dan bersiap ke kantor. Melelahkan, iya. Namun justru di sanalah Alifa merasa hidup. Alarm berbunyi pukul lima pagi. Alifa terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Ia menoleh ke sisi ranjang kecil di sampingnya. Kiara masih terlelap, memeluk boneka kelinci kesayangannya. Alifa bangkit perlahan, menuju dapur. Air mendidih, nasi dihangatkan, telur digoreng. Sambil memasak, pikirannya melayang—tentang pekerjaan barunya, tentang tanggung jawab yang kini sepenuhnya ada di pundaknya. Ia tahu Adrian masih mengirim uang untuk Kiara, tapi Alifa tidak ingin hidup bergantung pada mantan su

