Siang berganti malam, hari-hari Alifa kini berputar cepat—terlalu cepat, bahkan untuk sekadar menarik napas panjang. Sejak resmi bergabung dengan perusahaan itu, dunia Alifa seakan berubah arah. Meja kerjanya tak pernah benar-benar rapi, layar komputernya hampir selalu menyala, dan cangkir kopi menjadi teman setia yang tak pernah jauh dari jangkauan. Proyek baru perusahaan menuntut fokus penuh, ide-ide segar, dan jam kerja yang panjang. “Alifa, konsep visual yang kamu buat kemarin disukai klien,” ujar Cika suatu sore, sambil menaruh map tebal di atas meja. “Tapi… mereka minta revisi. Deadline besok pagi.” Alifa menghela nafas pelan, lalu tersenyum tipis. “Baik. Aku kerjakan malam ini.” “Serius?” Cika menatapnya ragu. “Kamu lembur lagi?” Alifa mengangguk. “Ini kesempatan besar. Aku

