Adrian dan Rinati segera bergegas membawa Kiara ke rumah sakit. Anak kecil itu masih terus merintih kesakitan sambil memegangi dadanya. Napasnya terengah, wajahnya pucat, tubuh kecilnya gemetar di pelukan Adrian. “Kiara… Kiara, lihat Ayah,” panggil Adrian tanpa henti, suaranya bergetar hebat. Tangannya mengusap pipi Kiara yang dingin, seolah takut anak itu menghilang jika ia berhenti menyentuhnya. “Ayah di sini, Nak… ayah di sini. Jangan tidur, ya. Dengar suara Ayah.” Kiara membuka mata setengah, bulu matanya bergetar. “A-ayah… sakit…” lirihnya, nyaris tak terdengar. Hati Adrian seperti diremas. Dadanya sesak, napasnya memburu, namun ia memaksakan senyum meski matanya basah. “Sebentar lagi sampai rumah sakit. Ayah janji. Kamu kuat, Kiara. Anak Ayah paling kuat.” Rinati yang duduk di

