Bab 51

2404 Kata

Alifa benar-benar pulang malam itu juga. Ia tak peduli jarum jam masih menunjuk dini hari. Setelah menjelaskan secara singkat kondisi Kiara pada Cika—dengan suara yang bergetar tapi dipaksa tegar—Alifa langsung berlari menuju parkiran. Mesin mobil meraung, memecah sunyi kota. Jalanan lengang membuatnya menekan pedal gas lebih dalam dari biasanya. Lampu-lampu jalan berkelebat seperti bayangan yang tak sempat ia tangkap. Pikirannya hanya satu: Kiara. Wajah kecil itu, nafasnya yang dulu sering terengah, detak jantungnya yang kerap membuat Alifa dilanda ketakutan paling sunyi. Tangannya gemetar di setir. Sesekali matanya basah, tapi ia mengusapnya kasar—tak boleh kabur. Ia harus sampai. Ia harus ada di sana. Apapun yang terjadi. Di tengah laju mobil yang membelah dini hari, Alifa be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN