Lampu operasi menyala terang, memantul di permukaan baja yang dingin. Ruangan itu hening, hanya suara alat monitor yang berdetak stabil—namun bagi Adrian, setiap bunyi terdengar seperti ketukan palu di dadanya sendiri. Sebagai dokter bedah jantung, menolong pasien bukanlah hal baru. Puluhan, bahkan ratusan nyawa pernah ia selamatkan. Julukan “si tangan malaikat” melekat padanya bukan tanpa alasan. Tangannya dikenal tenang, presisi, tak pernah gemetar meski menghadapi kasus tersulit sekalipun. Namun hari ini berbeda. Di balik tirai steril itu terbaring Kiara. Gadis kecil dengan wajah pucat yang begitu dikenalnya. Anak yang pernah tertawa di pangkuannya, memanggil namanya dengan suara polos, dan menatapnya seolah ia adalah tempat paling aman di dunia. “Adrian, kita mulai,” ucap Andri,

