Hari demi hari berlalu dengan perlahan, seolah waktu sengaja menahan langkahnya agar Kiara diberi kesempatan untuk bertahan. Kondisi gadis kecil itu mulai menunjukkan perubahan. Angka-angka di monitor tak lagi naik turun dengan liar. Detak jantungnya kian teratur, nafasnya lebih stabil. Masa kritis yang sempat menggantung di ujung maut akhirnya berhasil ia lewati—pelan, rapuh, namun nyata. Kiara bertahan. Kiara kuat. Alifa hampir tak pernah beranjak dari sisi ranjang itu. Kursi kecil di samping tempat tidur menjadi saksi bisu malam-malam panjang yang ia lewati tanpa tidur. Tangannya setia menggenggam jemari Kiara yang masih dingin, seolah sentuhan itu satu-satunya pengikat agar putrinya tetap berada di dunia ini. Setiap tarikan nafas Kiara diperhatikannya dengan cermat. Setiap kedipa

