Adrian mengucapkan kalimat itu dengan suara pelan, nyaris seperti orang yang takut mengusik kenangan lama. “Ibu ingin menjenguk Kiara,” ucapnya, matanya menatap Alifa dengan ragu—seolah bukan sekadar memberi kabar, melainkan meminta izin atas sesuatu yang bahkan ia sendiri tahu betapa beratnya. Udara di antara mereka mendadak terasa lebih padat. Alifa terdiam. Nama Ibu—Retno—membuat dadanya seketika mengeras. Bukan karena benci semata, melainkan karena luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Luka yang ia kira sudah mengering, ternyata hanya tertutup tipis oleh waktu, siap menganga kapan saja bila disentuh. Bayangan itu datang tanpa permisi. Beberapa tahun lalu. Saat Alifa masih istri Adrian, masih menata hidup dengan penuh harap, dan masih percaya bahwa cinta bisa menaklukka

