Bab 47

1464 Kata

Yang dirasakan Alifa tak jauh berbeda dengan Edo, bahkan mungkin lebih rumit. Setiap sudut pikirannya kini dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu yang seharusnya telah ia kubur dalam-dalam. Malam demi malam berlalu tanpa benar-benar memberinya ketenangan. Dalam keheningan, ingatannya justru berisik—menghadirkan potongan-potongan kenangan tentang pria yang dulu ia sebut rumah. Ia teringat tatapan itu, tatapan yang dulu mampu menenangkannya hanya dengan sekali pandang. Suara mantan suaminya seakan masih bergema di telinganya, menyusup tanpa izin, membawa serta janji-janji yang kini tinggal serpihan. Alifa mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu sudah berlalu, bahwa ia telah kuat dan mampu berdiri sendiri. Namun hati manusia tak pernah sepenuhnya patuh pada logika. Ada sesak yang tak bisa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN