Adrian mengantar Kiara ke rumah ibunya menjelang senja. Langit berwarna jingga pucat, seolah ikut menahan napas bersama hatinya yang kembali terasa sesak. Setiap kali mobilnya berhenti di depan rumah itu, perasaan yang sama selalu datang—rasa yang mengganjal, tak pernah benar-benar hilang meski waktu telah berusaha menguburnya. Rumah itu masih sama, begitu pula perempuan yang akan segera keluar menyambut putri mereka. Mantan istrinya. Perempuan yang dulu begitu ia kenal luar dalam, namun kini terasa seperti jarak yang tak lagi bisa ia tempuh. Pintu terbuka, dan Kiara langsung meloncat turun dengan senyum lebar, berlari ke arah ibunya. Adrian memperhatikan dari kejauhan, dadanya menghangat sekaligus perih. Ada kebahagiaan melihat Kiara begitu ceria, tetapi ada pula rasa asing—seperti tamu

