Rianti berdiri di dekat meja kecil di sudut kamar hotel, jemarinya gemetar saat membuka lipatan kertas berisi bubuk putih itu. Lampu temaram membuat bayangannya memanjang di dinding, seolah menegaskan kegelisahan yang sejak dua hari lalu tak juga mereda. Dengan napas tertahan, ia menuangkan bubuk itu ke dalam minuman suaminya—obat perangsang yang ia dapatkan dengan setengah ragu, setengah nekat. Bukan tanpa alasan Rianti melakukan semua ini. Dua hari menginap di hotel yang seharusnya menjadi waktu mereka untuk kembali saling mendekat justru terasa seperti ujian yang menyakitkan. Adrian, suaminya, lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kiara, putrinya dari pernikahan pertama. Rianti mencoba memahami, sungguh. Ia tahu Adrian adalah ayah yang bertanggung jawab. Namun di balik senyum yang ia

