Adrian menoleh, alisnya sedikit terangkat, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Pizza?” ulangnya, sudut bibirnya melengkung tipis. “Jam segini?” Alifa mengangguk pelan, memeluk bantal sofa. “Iya. Entah kenapa pengin banget.” “Keju banyak?” tanya Adrian sambil meraih ponselnya. “Banyak,” jawab Alifa cepat, lalu menambahkan ragu, “tapi jangan pedas.” Adrian terkekeh kecil. “Kamu masih sama. Dulu juga selalu begitu—keju iya, pedas nggak.” Alifa terdiam. Ada jeda singkat sebelum ia berdehem, menatap lurus ke depan. “Kamu masih ingat hal-hal sepele begitu?” Adrian berhenti menggeser layar ponselnya. Ia melirik Alifa, tatapannya tenang tapi dalam. “Beberapa hal susah dilupakan.” Suasana mendadak terasa canggung. Alifa mengubah posisi duduknya, menyilangkan kaki. “Aku nggak tahu temp

