Bab 57

1798 Kata

Alifa memandang layar ponselnya terlalu lama, seolah benda kecil itu mampu memberinya jawaban. Nama Adrian masih menyala di bagian atas layar, dengan pesan terakhir yang belum ia balas sejak tadi sore. Ajakan berlibur bersama—kalimatnya sederhana, bahkan terdengar hangat. “Kita jalan-jalan sebentar saja. Kiara sudah jauh lebih baik. Jakarta atau Bandung pun tidak apa-apa.” Nafasnya terasa tertahan. Alifa menurunkan ponsel itu perlahan, menatap kosong ke arah jendela. Langit mulai menguning, senja merayap masuk ke kamarnya, membawa suasana yang sama rapuhnya dengan perasaannya. Kiara memang sudah sangat membaik. Gadis kecil itu bahkan berlarian di halaman sore tadi, tawanya ringan, matanya berbinar—terlalu hidup untuk anak yang sempat terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dengan suara

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN